Melihat Dari Dekat Geliat Promosi Wisata Indonesia di Negeri Paman Sam

BERGELIAT: Tayangan video promosi Pulau Komodo terpampang jelas di Kawasan Boardway, Manhattan, New York, Amerika Serikat, Rabu (10/7). (KEMENPAR FOR FIN)

FIN.CO.ID – Video pendek yang menceritakan kehidupan Komodo menghiasi sejumlah layar LED raksasa di Kawasan Boardway, New York, Amerika Serikat. Lenggak lengggok hewan langka ini bisa terlihat jelas para wisatawan yang melintas di Times Square tersebut.

Tim FIN-Jakarta

Iklan-iklan singkat itu bertebaran bersama puluhan brand terkenal di kiri kanan gedung pencakar langit Manhattan tersebut. Di sudut layar, tergambar jelas logo Wonderful Indonesia.

Ya, Indonesia mulai gencar mempromosikan destinasi wisatanya di negeri Paman Sam tersebut. Tahun ini, Kementerian Pariwisata punya pekerjaan rumah yang cukup berat. Mereka menargetkan 18 juta pelancong mancanegara berwisata ke negeri zamrud khatulistiwa ini.Selain di New York, iklan yang sama juga ditayangkan di Los Angeles, kota terbesar kedua di Pantai Barat Amerika Serikat.

Tidak hanya Komodo, ada lima destinasi lainnya ikut ditampilkan. Ada Bali, Raja Ampat, Borobudur, Danau Toba dan Pantai Gili Kedis (Nusa Tenggara Barat). Semuanya dilengkapi logo Wonderful Indonesia.

BERGELIAT: Tayangan video promosi Pulau Komodo terpampang jelas di Kawasan Boardway, Manhattan, New York, Amerika Serikat, Rabu (10/7). (KEMENPAR FOR FIN)

Selain lewat papan elektronik, Wonderful Indonesia juga hadir bersama livery bus wisata di New York. Durasi branding sekitar 3 pekan yang dimulai sejak 7-28 Juli 2019.

Dilansir dari laman Investopedia, ongkos penayangan iklan di Boardway merupakan yang termahal di dunia. Tarifnya hingga 3 juta USD atau Rp42 miliar per bulan. Itu pun hanya berlaku untuk satu billboard belum ditambah dengan stiker iklan di bus yang mengitari kawasan tersebut setiap jam.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya, mengatakan, gencarnya iklan yang ditampilkan bukan tanpa alasan. Mereka lebih tergiur atas potensi wisatawan.

Pergerakan wisatawan asal Negeri Paman Sam memang kompetitif. Pada 2018, arus wisatawan AS mencapai 387.295 orang. Jumlah tersebut tumbuh 12,3 persen dari rentang tahun sebelumnya yakni 344.766 orang.

Potensi wisatawan yang ada di AS harus dioptimalkan. Kami memanfaatkan ruang publik, karena ini yang efektif. Ingatan publik di sana selalu melekat dengan destinasi di Indonesia, kata Nia, Rabu (10/8).

Nia menjelaskan, pasar wisatawan asal Amerika Serikat memang menjanjikan bagi Indonesia. Selain New York dan Los Angeles, Kota di kawasan tengah Amerika seperti Seattle dan Houston merupakan pasar wisatawan yang potensial.

LED Billboard Wonderfull Indonesia tidak hanya satu melainkan tiga. Ketiganya terpasang di 45th, 46St, dan Broadway Facing West, New York.
Kawasan tersebut menjadi yang tersibuk di New York dimana setiap harinya ada sekitar 300 ribu pejalan kaki yang melewati kawasan tersebut. “Bayangkan ada ratusan ribu orang yang lewat dan itu tidak hanya dari AS, melainkan seluruh dunia,” papar Nia.

Hal serupa diterapkan di Los Angeles. Namun, di sini branding dioptimalkan pada dua unit bus hop on hop off. Destinasi yang ditampilkan full, seperti Bali, Raja Ampat, Borobudur, Danau Toba, dan Gili Kedis. Komodo juga ikut disajikan di sini. Berkeliling di pusat kota, bus memiliki rute ke kawasan elit seperti, Hollywood, Beverly Hills, Santa Monika, dan Downtown.

Sekedar diketahui, sejak Januari hingga Mei ini, sebanyak 6,73 juta wisatawan asing mengunjungi Indonesia. Angka ini meningkat 2,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan meningkatnya jumlah wisman ke Indonesia dibandingkan periode yang sama sebelumnya menjadi indikator yang baik bagi sektor pariwisata di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here