Tinggal Eksekusi, Soal Cendana Sudah Dihitung

BEBERAPA hari terakhir, sajian berita di layar televisi sama. Bahkan, nyaris diulang-ulang.

Tokohnya pun, ya itu-itu saja. Narasinya juga ya sama.

Paling jauh soal kedatangan Donald Trump di Zona Demiliterisasi.

Zona perbatasan Korut dan Korsel.

Ini pun menarik, karena ia menjadi Presiden AS pertama yang menginjakan kaki di kawasan merah itu.

Chanel di geser sedikit ke stasiun tv sebelah. Sama juga.

Kalau yang ini lebih mengaitkan pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Isunya, seputar rupiah yang menguat. Efek dari pertemuan kedua tokoh itu.

Remote tv mengarah ke chanel lain. Yang ini stasiun televisi dengan logo bergambar elang. Lay out-nya identik biru.

Bahasan politiknya kental banget. Maklum, salah satu bosnya orang partai.

Lalu apa sih isinya. Ya sama. Tema yang diangkat antara koalisi atau oposisi.

Bosan makin memuncak. Suhu gerah.

Ini bukan lantaran sajian televisi tadi. Tapi karena  AC kamar kos ku mati.

Ya, aku menyewa satu kamar kos di kawasan Medang Lestari, Serpong, Tangerang.

Sengaja agak jauh dari lokasi tempatku bekerja di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Alasannya cuma ingin menikmati suasana beda.

Iseng-iseng aku telepon Bung Web. Aktivis senior.

Orang-orang pergerakan, terutama di lingkaran Partai Rakyat Demokratik ia dipanggil Kingkong.

Maklum, badanya tingi besar. Tapi baik.

Panggilan telepon ku pun diterima. Hampir 15 menit ngobrol. Arah pembicaraan sudah menyasar ke politik.

Pokok yang dibahas juga sama. Kaitannya plus minus oposisi dan koalisi.

Tapi agak kesana, pembahasan lebih serius. ”Prabowo sudah dibikin bingung dengan Jokowi!” ucap Bung Web.

Berlahan dia mengulas soal beberapa hal yang diangkat Jokowi saat debat kandidat Pilpres.

Dari soal lahan milik Prabowo, sampai hal-hal yang kontennya agak ngepop. ”Panama Papers”. Waw.

Bung Web menggambarkan, Prabowo, yang sedang dipayungi kegelisahan.

Dari kepentingan Cendana, aset, kompromi koalisi sampai hitung-hitungan miring melawan arus. Oposisi.

”Semuanya berbenturan Man!” timpalnya dengan nada nyinyir.

Bang Web malam ini lebih cerdas dari biasanya.

Entah literasi atau informasinya dari mana. Tapi yang aku tanggkap Bung Web bisa mengkonstruksikan kegelisahan Prabowo dengan kepentingan yang menghantuinya.

”Aku ini cuma nebak-nebak aja. Kita ini kan 03 cuy, sekarang ya!” sahut Web seraya memastikan.

Ia menduga akan muncul Paradise Papers yang akan membedah rincian kepemilikan investasi dan skema penghindaran pajak di Bermuda.

Entar dari mana dia tahu kalau jutaan dokumen Panama Papers yang bocor itu berasal dari perusahaan penyedia layanan hukum offshore bernama Mossack Fonseca.

”Kalau lu baca lebih dalam ngeri. Ada surat kabar di Jerman kalau nggak salah namanya Süddeutsche Zeitung. Koran ini yang pertama kali memperoleh bocoran dokumen itu,” paparnya.

Pertanyaanku kembali muncul. Apa hubunganya dengan Cendana atau Prabowo? ”Makin rahasia, makin mahal tarifnya Man,” timpal Web kembali berkelakar.

Tapi setelah pertanyaanku dimentahkannya, Web kembali ”berorasi”. Panjang kali lebar kali tinggi.

Ceritanya ngalor-ngidul. Rumit deh menterjemahkan sandi-sandinya.

Berlahan aku cerna. Sejalan dengan kopi tubruk yang mulai mengering.

”Kau tahu berapa nama pesohor di Indonesia kecuali Prabowo tau dua anak Soeharto,” tanya Web.

Tentu aku tahu. Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

”Coba kau cari tahu, benar atau tidak omonganku ini. Beberapa nama yang kau sebutkan tadi turut disebut dalam dokumen itu,” timpalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here