Ojek Online Ancam Gelar Aksi

FIN.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menurunkan tarif ojek online alias ojol. Saat ini masih dalam penggodokan. Terkait itu, ojek online menyatakan keberatan dan mengancam akan turun ke jalan.

Pihak Kemenhub kemungkinan akan menurunkan tarif, terutama untuk jarak pendek yakni 4 kilometer (km) pertama. Adapun tarif 4 km di Jabodetabek sebesar Rp8.000 hingga Rp10.000.

Selain itu, tarif per km juga akan diturunkan, namun penurunannya relatif kecil.

Terkait rencana penurunan tarif, perwakilan dirver Ketua Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda), Igun Wicaksono menegaskan, menolak recana tersebut. Dia pun mengancam siap turun ke jalan sebagai bentuk protes.

“Tidak ada penurunan tarif lagi, dalam bentuk apapun. Jika diturunkan (tarif ojol) bisa terjadi turun aksi,” ujar Igun, kemarin (11/6).

Pasalnya, lanjut Igun, tarif yang berlaku saat ini masih di bawah usulan driver. Untuk Jabodetabek, driver menerima tarif bersih (nett) Rp2.000/km. Padahal idealnya, kata dia, seharusnya Rp2.400/km.

“Yang kita harapkan tarif bisa naik secara bertahap. Lha ini malah diturunkan. Tentu saja kita menolak,” ujar dia.
Igun menduga, selain penurunan tarif juga Kemenhub melarang diskon tarif. Nah jika ini dihapus, menurut dia, akan berimbasa pada minat penumpang.

“Kita melihat akan dampak hilangnya promo ini diturunkannya tarifnya. Untuk menjaga bisnis alasannya, untuk menjaga penumpang. Penumpang dijaga tapi driver nggak dijaga,” sesal dia.

Untuk itu, selain menolak penurunan tarif, Igun juga meminta pemerintah untuk tidak menghapus diskon tarif. Dia mengusulkan, lebih baik diatur ambang batasnya.

“Kalau mengenai potongan promo diskon baiknya diatur ambang batas maksimalnya, bukan dihilangkan,” tegas Igun.

Andaikata Kemenhub jadi menurunkan tarif dan menghapus diskon tarif, maka akan ada gejolak di lapangan sehingga akan merugikan banyak pihak.

“Ini akan merugikan semua pihak termasuk Kemenhub sendiri, kalau ada aksi masa memprotes. Itu yang kita tidak diinginkan,” ujar dia.

Analis Kebijakan Transportasi yang juga Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan mengatakan, penurunan tarif akan merugikan pengemudi.

“Wah kalo diskon dilarang boleh-boleh saja. Tapi kalau tarif jangan diturunkan dong. Penghapusan diskon disertai penurunan tarif akan menghancurkan pendapatan pengemudi,” ujar Tigor, kemarin.

Dia meminta, antara regulator dan pengemudi ojol duduk bareng agar terjadi kesepakatan bersama mengenai penurunan tarif.

“Makanya sebaiknya soal tarif dibicarakan bersama antara pengemudi dan aplikator serta pemerintah sebagai regulator,” kata Tigor.

Tigor juga menyoroti soal komisi 20 persen untuk aplikator. Menurut dia, angka tersebut cukup besar dan tidak dijelaskan untuk apa saja.

“Nah pemerintah harus menegur potongan komisi tinggi ini. Hraus jelas hitungannya, rinciannya untuk apa saja, kan itu tidak ada. Jadi menurut saya 5 persen saja sudah cukup untuk aplikator,” tukas Tigor.

Sebelumnya, Kemenhub memastikan akan menurukan tarif ojol usai melakukan survei. Namun belum bisa menyebutkan berapa besaran penurunan tersebut. Sebab masih dalam pembahasan.

Penurunan khususnya untuk jarak pendek. Sementara, untuk per km juga turun tapi relatif sedikit.

“Dari hasil survei ada yang sesuai, ada yang mau diturunkan, ada yang terlampau besar. Terutama flag fall, yang jarak pendek itu terlampau besar, jadi mau kita turunkan. Iya flag fall yang 4 km,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setyadi.

(din/fin)