Laporan Kecurangan UNBK SMP Disebut Naik, Jatim Tertinggi

FIN.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kemarin (28/5) umumkan hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di tingkat SMP. Tahun ini, mereka mendapatkan laporan kecurangan yang lebih banyak. Dari 86 laporan kecurangan yang masuk, Kemdikbud berhasil mengidentifikasi 55 diantaranya.

Artinya, 31 laporan diantaranya berhasil dieliminir. Karena terbukti bukan termasuk salah satu kecurangan. Sehingga, Kemendikbud hanya memproses 55 yang terbukti melanggar. Jumlah ini cenderung berkurang, jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kemendikbud mengidentifikasi ada 57 kecurangan yang terjadi sealma UNBK SMP tahun lalu.

Irjen Kemendikbud Muchlis R. Luddin menegaskan, tidak ada kasus kebocoran soal tahun ini. Kecurangan tersebut, hanya dilakukan oleh para siswa mau pun guru ketika UNBK berlangsung. Mereka dinyatakan tidak mengerjakan soal sebagaimana mestinya. Alias mendapatkan bantuan dari pihak ketiga. “Dari 55 itu tiga siswa diantaranya melanggar dua mata pelajaran sekaligus,” akunya. Sedangkan 52 sisanya, hanya melanggar satu mata pelajaran saja.

Ketiga siswa tersebut, berada di tiga provinsi berbeda. Seorang siswa, berasal dari Jakarta Timur, dinyatakan curang di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Satu lainnya berasal dari Sidoarjo. Dia dinyatakan curang ketika ujian di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Terakhir, merupakan siswa di Bekasi. Dia dinyatakan curang di pelajaran Matematika dan IPA.

Muchlis menjelaskan, Jawa Timur (Jatim) dinobatkan menjadi provinsi dengan kecurangan tertinggi. Provinsi ini menempati posisi pertama, dengan angka kecurangan sejumlah 28 siswa. Pada urutan kedua, merupakan Provinsi Jawa Barat (Jabar). Ada 11 siswa yang melakikan kecurangan, di Kabupaten dan Kota yang ada di Jabar. “Sedangkan Kabupaten atau Kota yang memiliki angka kecurangan tertinggi, berasal dari Kabupaten Sidoarjo,” tutur guru besar Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut. Ada 20 siswa yang dinyatakan curang di satu mata pelajaran di Sidoarjo.

Salah satu kasus di Sidoarjo yang menjadi perhatian khusus merupakan kasus di MTs Al Abror. Sekolah yang berada di Jalan Kauman, Sidoarjo tersebut telah melakukan kecurangan secara masif. Guru sekolah tersebut terbukti membantu siswanya untuk mengisi soal UNBK. Dengan cara menyambungkan komputer yang ada di ruangan ujian, ke komputer yang ada di ruangan sebelah menggunakan remote computer.

Sehingga seolah-olah siswa yang mengerjakan ujian. Padahal, soal-soal tersebut dikerjakan oleh para guru di ruangan sebelah. “Jadi untuk menyambungkan koneksi komputer dari ruangan satu ke ruangan lain itu, gurunya sampai menjebol tembok yang memisahkan antar ruangan,” kata Muchlis. Dia menduga, hal tersebut sudah dipersiapkan semenjak lama. Mengingat proses penjebolan dinding, dan menyambungkan koneksi komputer tidak bisa dilakukan dalam sehari.

Guru yang menjawab soal UNBK itu pun, merupakan guru yang mengajar sesuai dengan mata pelajaran. Misalnya ujian matematika, akan dikerjakan oleh guru matematika juga. Mereka akan bergantian berjaga di ruangan sebelah, sesuai jadwal UNBK. Karena hal tersebut, Kepala Madrasah itu diminta untuk membuat surat pernyataan. Bahwa dia telah menyesali praktik curang yang terjadi di MTs Al Abror sendiri. Dia juga akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Muchlis menduga, ada persekongkolan yang dilakukan antar guru dan wali murid. Dalam memberi mereka fasilitas bimbingan belajar (bimbel). Namun, dengan garansi anaknya akan seratus persen lulus. Oleh karena itu, para guru menghalalkan segala cara untuk membuat anak didiknya lulus. Meskipun begitu, Muchlis masih belum memutuskan sanksi apa yang akan diberikan kepada para guru di sekolah tersebut. “Kita selesaikan dulu saja serangkaian UNBK ini sampai PPDB nanti, baru kami pikirkan lagi apa sanksi yang cocok untuk mereka,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi, sudah menyiapkan sanksi bagi siswa yang terbukti melakukan kecurangan. Kemendikbud akan memberikan mereka nilai nol, di mata pelajaran yang terbukti curang. Ini merupakan pertama kalinya Kemendikbud memutuskan untuk memberikan nilai nol, kepada siswa yang terbukti curang. “Tapi kita juga tidak setega itu melihat anak didik kita trauma karena SHUN-nya (Sertifikat Hasil Ujian Nasional, Red) kami beri nol,” tuturnya.

Siswa yang terbukti bersalah tersebut akan mendapatkan kesempatan kedua. Kemendikbud memang tidak mengadakan UN perbaikan. Namun, mereka memberikan ujian ulangan kepada mereka yang terbukti curang. Ujian tersebut, akan dilaksanakan seusai Hari Raya Idul Fitri kali ini. Tepatnya pada 12 Juni mendatang. “Tapi bagi siswa yang tidak bersedia untuk ikut, nilainya tentu saja tidak akan kami ubah. Alias tetap nol,” tegas Bambang.

Ujian ulangan tersebut, tentu saja tidak akan sama dengna UNBK reguler. Mereka yang mengikuti tes tersebut, tidak akan bisa mendapatkan hasil nilai seratus persen. Peserta ujian itu, hanya akan mendapatkan nilai maksimal 80 persen saja. Ini merupakan salah satu sanksi edukatif, yang diberikan oleh Kemendikbud. SHUN mereka juga akn ditangguhkan, dari siswa yang sudah lulus dari UNBK reguler. SHUN tersebut baru diberikan setelah siswa yang terbukti curang itu mengikuti ujian ulangan. “Jadi tidak ada dua SHUN, yang ada nilai nolnya. Sama yang tidak ada,” beber Bambang.

(bin/ful)