Breaking News
FOTO DOK/FIN Direktur Utama (Dirut) PLN (nonaktif) Sofyan Basir

Mangkir Panggilan KPK, Sofyan Basir Penuhi Panggilan Kejagung

FIN.CO.ID, JAKARTA – Direktur Utama (Dirut) PLN nonaktif, Sofyan Basir, batal memenuhi panggilan tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (24/5). Semula, KPK menjadwalkan pemeriksaan Sofyan sebagai tersangka kasus dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama PLTU Riau-1.

Vice President (VP) Public Relations PLN, Dwi Suryo Abdullah memaparkan alasan ketidakhadiran Sofyan. Menurut dia, Sofyan batal hadir lantaran tengah menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus dugaan korupsi terkait sewa dan pengadaan bahan bakar Kapal Leasing Marine Vessel Power Plant (LMVPP) kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan PT Karpowership Indonesia di Kejaksaan Agung (Kejagung).

“Bapak Sofyan pada hari ini sebagai warga negara yang baik beliau menunaikan kewajibannya dengan memenuhi panggilan sebagai saksi dalam perkara Leasing Marine Vessel Power Plant di Kejaksaan Agung,” ujar Dwi ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (24/5).

Dwi menambahkan, pemeriksaan kali ini merupakan panggilan kedua yang dilayangkan pihak Kejagung. Sebelumnya, Kejagung sempat memanggil Sofyan untuk diperiksa pada 17 Mei 2019 lalu. Namun, kata Dwi, saat itu Sofyan berhalangan hadir.

Kendati demikian, Dwi memastikan Sofyan akan kooperatif dengan KPK. Ia mengungkap, Sofyan bahkan telah melayangkan surat kepada KPK untuk menunda pemeriksaan melalui kuasa hukumnya.

“Pada hari ini yang bertepatan juga dengan panggilan KPK. Tadi pagi jam sembilai beliau sudah berada di Kejaksaan Agung untuk memenuhi panggilan tersebut,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengakui pihaknya telah menerima surat dari kuasa hukum Sofyan Basir. Febri menerangkan, surat tersebut berisi pernyataan tidak bisa memenuhi panggilan penyidik serta meminta penjadwalan ulang pemeriksaan.

“Penyidik sedang melakukan pemeriksaan saksi-saksi lain dalam kasus ini. Surat tersebut nanti kami pelajari dulu untuk menentukan apa yang akan dilakukan sesuai kebutuhan penyidikan ini,” ucapnya.

Sementara, Jaksa Agung HM Prasetyo membenarkan pemanggilan tersebut. Dikatakanya, pemanggilan kemarin merupakan yang ketiga kalinya setelah dua panggilan sebelumnya belum dapat memenuhi panggilan tim penyidik. “Berdasarkan laporan dari penyidik pidana khusus untuk ketiga kalinya. Yang ketiga ini baru sempat menghadiri. Diperiksa sebagai saksi untuk marine vessel powerplant atau kapal pembangkit listrik PLN,” jelasnya.

Menurut Prasteyo, pemanggilan ini sangat diperlukan oleh penyidik untuk mendalami kasus dugaan korupsi tersebut. Memang hingga saat ini masih penyidikan umum dan belum pada penetapan tersangka. “Ini yang diperlukan keterangan dari mantan dirut PLN ini,” tegasnya.

Disinggung, bahwa Sofyan Basir juga dipanggil penyidik KPK terkait kasus PLTU Riau 1 di hari yang sama, menurut Prasetyo, kepentingan Kejagung lebih urgent. “Jadi kalaupun katanya ada panggilan juga dari KPK, yangbersangkutan tampaknya karena sudah yang ketiga kali jadi memilih yang di Kejagung. Ya nanti bisa dijadwal ulang,” ujarnya.

Prasetyo juga menambahkan, perkara di Kejaksaan Agung dan KPK merupakan perkara yang berbeda. “Kasusnya berbeda dengan yg di KPK. Ini masih penyidikan umum artinya masih mengumpulkan keterangan saksi saksi,” tutupnya.

Sementara, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman menilai mangkirnya Sofyan Basir terhadap panggilan KPK dengan memilih menghadiri mendatangi Kejagung diasumsikan demi menghindari tindakan penahanan oleh KPK. “Mungkin dia (Sofyan Basir) mikirnya kalau dia di Kejagung enggak ditahan di KPK,” katanya di Jakarta.

Tak hanya itu, menurut Boyamin , tindakan Sofyan Basir dalam menghadiri panggilan penyidik KPK dan Kejaksaan Agung serba salah, di satu sisi, lanjut Boyamin , takut dilakukan penanahan oleh KPK di sisi lain takut dijemput paksa oleh penyidik Kejagung. “Serba salah bisa ditahan di KPK, bisa dijemput paksa oleh kejaksaan,” jelasnya.

Namun, Boyamin meminta Sofyan Basir untuk berlaku kooperatif baik perkara yang di KPK dan di Kejaksaan Agung, agar semua proses hukumnya dapat berjalan dengan lancar. “Kalau di KPK dan Kejagung ya kooperatif aja, mau gimana lagi, ibarat kata kanan kiri kena,” tutupnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Direktur Utama (Dirut) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero Sofyan Basir sebagai tersangka. Penetapan tersangka itu berdasarkan pengembangan perkara kasus dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama proyek PLTU Riau-1.

“Tersangka diduga bersama-sama atau membantu Eni Maulani Saragih selaku anggota DPR RI bersama kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johanes Budisutrisno Kotjo terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1,” ujar Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (23/4).

Dalam konstruksi perkara yang berhasil terungkap, mulanya pada Oktober 2015, Direktur PT Samantaka Batubara mengirimkan surat kepada PT PLN. Isinya, yakni permohonan agar proyek PLTU Riau-1 dimasukkan ke dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN.

Namun, surat tersebut tidak mendapat tanggapan positif. Akhirnya, pemegang saham Blackgold Natural Resources (BRN), Johanes Budisutrisno Kotjo, mencari bantuan agar bisa berkoordinasi dengan PT PLN untuk mendapatkan proyek Independet Power Producer (IPP) PLTU Riau-1.

“Diduga telah terjadi beberapa kali pertemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu SBF (Sofyan Basir), Eni M Saragih, dan atau Johanes Kotjo membahas proyek PLTU,” terang Saut.

Tahun 2016, meski PP Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Inftastruktur Kelistrikan belum terbit, Sofyan diduga telah menunjuk Johanes Kotjo untuk mengerjakan proyek di Riau (PLTU Riau-1).”Karena untuk PLTU di Jawa sudah penuh dan sudah ada kandidat,” sambung Saut.

Kemudian, PLTU Riau-1 dengan kapasitas 2×300 megawatt (MW) masuk dalam RUPTL PT PLN. Johanes Kotjo lalu meminta anak buahnya untuk siap-siap karena proyek PLTU Riau-1 sudah dipastikan milik PT Samantaka Batubara.

Setelahnya, Sofyan diduga menugaskan salah seorang direktur PT PLN agar Power Purchase Agreement (PPA) antara PT PLN dengan Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company (CHEC) segera direalisasikan.

“Sampai dengan Juni 2018 diduga terjadi sejumlah pertemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu SFB, Eni M Saragih dan atau Johanes Kotjo serta pihak lain di sejumlah tempat, seperti botel, restoran, kantor PLN dan rumah SFB,” kata Saut.

Pertemuan tersebut membahas sejumlah hal terkait proyek PLTU Riau-1. Di antaranya, penunjukan Johanes Kotjo sebagai pengerja proyek PLTU Riau-1 oleh Sofyan, dan penugasan salah seorang direktur PT PLN oleh Sofyan untuk berhubungan dengan Eni Saragih dan Johanes Kotjo.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga dilakukan penugasan bagi salah seorang direktur PT PLN oleh Sofyan untuk monitoring lantaran Kotjo mengeluhkan lamanya penentuan kebijakan proyek PLTU Riau-1. Serta, pembahasan bentuk dan durasi kontrak antara CHEC dengan perusahaan-perusahaan konsorsium oleh Sofyan.

Saut mengungkap, Sofyan Basir diduga menerima janji dengan mendapat suap yang sama besar dengan jatah Eni Saragih dan Idrus Marham. “Sebagai bentuk pemenuhan hak tersangka, pagi ini KPK telah mengirimkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan dengan tersangka SFB ke rumah tersangka,” pungkas Saut.

Atas perbuatannya, Sofyan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(lan/fin/tgr)

About Redaksi FIN

Check Also

Hubungan Seks di Kamar, Pasturi Bolekan Anak-Anak Nonton Melalui Jendela

FIN.CO.ID, Tasikmalaya– Warga di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, heboh semenjak 3 hari terakhir. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com