Breaking News
FOTO: AFP

POLISI SASARAN MASSA, 58 PROVOKATOR DITANGKAP

Moeldoko: Indikasi Kelompok Lain Mendompleng Situasi Keruh

 

JAKARTA  – Sudah tujuh korban jiwa dilaporkan meninggal dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi di Jakarta. Sementara itu aparat kepolisian yang menghalau massa dalam kerusuhan yang terjadi di Jalan Brigjen Katamso, Petamburan, Jakarta Pusat, tetap bertahan meski diserang, Rabu (22/5).

Polisi terus berupaya memukul mundur salah satu konsentrasi massa ke arah Tanah Abang, pada pukul 11.15 WIB Kepolisian dengan mobil water canon memukul massa di Jalan Brigjen Katamso ke arah jembatan layang Slipi. Sebagian orang dari massa tersebut sempat melawan dengan melempar batu ke arah petugas Kepolisian meski mobil water canon menyemprotkan air ke arah mereka.

Batu-batu berserakan di badan jalan dan sejumlah fasilitas umum, seperti pagar pembatas jalan dan pot-pot berserakan akibat dirusak massa. Sementara itu, asap masih membumbung tinggi akibat ban yang dibakar massa di ujung Jalan Brigjen Katamso arah Slip.

FOTO: GOH CHAI HIN / AFP

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menyebutkan bahwa kondisi keamanan di Indonesia khususnya Jakarta masih terkendali terkait dengan unjuk rasa di sejumlah lokasi di ibu kota. “Masih, masih (terkendali), ini masih sangat lokal, kita yakin bisa terselesaikan,” kata Moeldoko di Kantor eks Bina Graha Jakarta.

Mantan Panglima TNI itu mengimbau masyarakat untuk menghindari area-area unjuk rasa seperti Jalan Sudirman, karena daerah itu yang menjadi fokus pergerakan massa. “Berikutnya silakan melakukan aktivitas biasa, sepenuhnya serahkan kepada kepolisian TNI, kita bisa menyelesaikan,” katanya.

Moeldoko menyebutkan adanya indikasi kelompok lain yang ingin mendompleng situasi keruh saat itu. “Ini kan awalnya soal hasil pemilu, tapi terus yang diserang polisi, asrama kepolisian, alasannya apa? Justru itu, ini sudah keluar dari format politik, bahwa format politik pesta demokrasi berakhirnya di MK, bukan di jalanan,” katanya.

Menurut dia, hal itu sudah bergeser yang berarti ada upaya-upaya yang tersiapkan sebelumnya seperti ia prediksi. Terkait dengan penangkapan sejumlah tokoh, Moeldoko membantah pemerintah telah bertindak otoriter.

“Oh tidak, harus dibedakan dengan jelas, dari awal kita sudah mengatakan, hati-hati ada UU ITE, ini harus dijadikan patokan, bukan dalam konteks pemilu, dalam konteks apapun, dalam konteks bernegara, siapapun yg melanggar UU itu pasti diambil,” katanya. Ia menyebutkan sudah mengingatkan sejak dua bulan lalu agar para tokoh tidak sembarangan ngomong.

FOTO: BAY ISMOYO/AFP

 

Terpisah Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal di Jakarta, menyampaikan kronologi aksi kegiatan massa pengunjuk rasa yang berlangsung sejak Selasa (21/5). Iqbal menyebut aksi unjuk rasa yang berlangsung damai, dilakukan oleh berbagai kelompok massa yang mendekati kantor Bawaslu di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Ia menjelaskan bahwa dengan komunikasi yang baik dengan pimpinan pengunjuk rasa, petugas TNI/Polri bahkan bisa berbuka puasa bersama, sholat maghrib, sholat isya dan sholat tarawih bersama-sama. Setelah selesai sekitar pukul 21.00 WIB, petugas mengimbau kepada pengunjuk rasa untuk membubarkan diri.

“Korlap pengunjuk rasa kooperatif, suasananya pun kondusif, damai,” kata Iqbal didampingi Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi dan Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Asep Saputra, seperti dilansir Antara.

Setelah itu, petugas TNI/Polri bisa melakukan konsolidasi untuk tetap berjaga dan mengamankan obyek terutama Bawaslu. Namun sekira pukul 23.00 wib, katanya, ada massa yang datang di sekitar Bawaslu, tidak tahu dari mana, berulah anarkis dan provokatif, berusaha merusak security barrier dan memprovokasis petugas.

Petugas, katanya, sesuai prosedur standar operasional (SOP) dan karena sudah larut malam, petugas TNI/Polri menghalau dengan mekanisme yang ada, namun massa di beberapa lokasi di Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Thamrin menyerang petugas. “Bukan hanya lontaran kata-kata, tetapi juga batu, molotov, dan petasan,” katanya.

FOTO: BAY ISMOYO/ AFP

 

Ia menyebutkan ada 58 provokator yang ditangkap dan sedang didalami lebih lanjut dalam pemeriksaan. Massa tersebut dari luar Jakarta, seperti dari Jawa Barat, Banten, bahkan Jawa Tengah. Petugas juga menahan satu mobil ambulans berlambang partai politik, yang di dalamnya terdapat tumpukan batu dan berbagai peralatan, bahkan ada amplop. “Semua sudah kami sita,” katanya.

Setelah massa anarkis di sekitar Bawaslu sudah dikendalikan, kemudian di tempat lain di Jalan KS Tubun sekitar pukul 02.45 juga ada sekelompok massa sekitar 200 orang. Mereka ke kompleks asrama Brimob, lalu melakukan perusakan sejumlah kendaraan secara brutal.

Dari massa anarkis tersebut, katanya, menunjukkan bahwa itu bukan merupakan peristiwa spontan, melainkan telah dirancang (setting) untuk melakukan aksi anarkis dan brutal. “Beda dengan massa aksi damai yang sangat kooperatif,” katanya. (ful)

About Syaiful Amri

Check Also

Amsor, Tersangka Kecelakaan Maut Tol Cipali Alami Luka Berat

FIN.CO.ID, JAKARTA – Aparat kepolisian telah menetapkan tersangka pada kecelakaan beruntun di Tola Cipali Km ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com