Bulan Ramadan, Pakaian Impor China Gerus Produk dalam Negeri

FIN.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat memasuki bulan suci Ramadan penjualan produk makanan minuman dan produk tekstil mengalami peningkatan. Terbanyak produk pakaian dari China.

“Kita sempat berpikir, penjualan dan daya beli masyakat menurun. Tapi ternyata naik,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (14/5).
Menurut Gati, produk pakaian di bulan Ramadan terjual mencapai 20 persen. Angka ini naik hingga tiga kali lipat dari biasanya.

“Penjualan pakaian orang per orang naik tiga kali lipat kemarin, tapi secara keseluruhan 18-20%,” ujarnya.

Terkait produk pakaian impor, diakui Gati, membuat produk pakaian dalam negeri tidak terserap. Namun Kemenhub tidak bisa berbuat apa-apa karena terbentur dengan pernjanjian perdagangan bebas dengan China.

“Pedagang kan pikirannya cari untung, beli murah jual mahal,” kata Gati.

Kendati demikian, Kemenperin meminta Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk melakukan evaluasi keberadaan Pusat Logistik Berikat (PLB). Hal ini terkait maraknya impor produk tekstil dan pakaian jadi masuk ke Indonesia.

Diketahui, PLB selama ini menjadi tempat penampungan sementara masuknya kapas impor yang merupakan bahan baku dari kain dan pakaian jadi. Tetapi, jika tidak dilakukan evaluasi akan menjadi pintu masuk bagi produk kain dan pakain jadi asal negara lain.

“Ini harus benar-benar kita sikapi, harus cepat. Karena yang namanya PLB ini sebagai masuknya barang ke Indonesia sudah tidak benar,” ujar Gati.

Harapan Gati, setelah dilakukan evaluasi kemudian ada kebijakan yang dikeluarkan mampu menekan impor kain dan pakaian jadi. Sehingga pakaian produk dalam negeri tidak terpuruk.

“Kita tunggu hasil evaluasi, itu nanti Bea Cukai. Karena kami hanya beri masukan bagaimana dampak dari PLB. Kalau positif, harus kita besarkan lagi, tapi kalau negatif ya harus kita pertimbangkan,” tutur Gati.

Kesempatan yang sama, Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin, Muhdori menyatakan, Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam dua tahun terakhir menunjukkan perbaikan baik di pasar dalam negeri maupun global.

“Hal ini didasarkan pada laju pertumbuhan sampai dengan kuartal IV 2018 yang naik sebesar 8,73 persen serta peningkatan ekspor sebesar 5,55 persen,” ujar dia.

Berdasarkan data Kemenperin, nilai ekspor dari industri TPT nasional mencapai 12,58 miliar dolar AS pada 2017 atau naik 6 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara sepanjang 2018, jumlah ekspor industri TPT berkisar 13,6 miliar dolar AS-13,8 miliar dolar AS, melampaui target ekspor pada tahun tersebut sebesar 12,31 miliar dolar AS.

Tahun 2019, Kemenperin menargetkan nilai ekspor TPT tumbuh sebesar 13 persen atau setara 15 miliar dolar.

(din/fin)