Selasa , 16 Juli ,2019
Breaking News

Maruli Reborn!

TANGANNYA mengurut-urut sebatang rokok. Pandangannya ke depan. Tajam. Punggungnya bersandar pada dinding. Nyaman sekali terlihat.

Sejurus, ia tarik korek gas dari sudut meja, dan menyulut rokok yang setia di tepi bibirnya. Bluss….asap putih menyembur tepat di depan wajahnya.

Bang Maruli aku panggil dia. Senior, guru, sekaligus teman ngobrol yang paling asik bagiku. Selera humornya pas. Apalagi soal takaran kopi. Dia seperti barista. Racikannya yahud!

Bayangkan, jika kopi berpadu air panas, lalu diaduk dengan sendok. Nah kalau dia terbalik. Sendok tegak lurus didiamkan. Tapi cangkirnya yang memutar. Metodenya beda, caranya beda. Cuma intinya ya sama.  Diaduk. Unik.

 

 

 

Nama lengkapnya Maruli Hendra Utama, S.Sos, M.Si. Calon profesor.

Dia Dosen Sosiologi di Universitas Lampung. Banyak yang melabeli dia ”Dosen Rasa Aktivis”.

Penampilannya luwes. Enggak mau ribet. Orangnya keras. Susah dilobi, apalagi kalau sudah bersentuhan dengan profesi dan pribadi.

Bagi mahasiswa dan rekan-rekan dosen yang kenal dengannya, pasti paham. Jangan coba-coba bawa oleh-oleh, apalagi upeti untuk dapat nilai A.

Maruli lebih sreg, dengan mahasiswa yang kritis terhadap mata kuliah yang disodorkannya. Soal penampilan nomor sekian. Soal kecerdasan itu belakangan. Kritis menganalisa, cermat dalam bersikap itu poin utama.

”Uang itu tidak beda dengan sampah. Ada tempatnya. Jangan cari uang di tempat yang kotor. Jangan juga cari sampah di tempat yang bersih. Sederhana saja,” kalimat itu yang pernah ia sampaikan dan ternyata masih menempel di ingatanku sampai sekarang.

Terakhir kali, aku bertemu dengannya di warung kopi Aceh di bilangan Korpri, Sukarame, Bandarlampung. Sebelum Ramadan. ”Aku mau buat akun Facebook baru. Namanya Maruli Reborn!” ucapnya dengan mengangkuk-anggukan kepala. Ia tak menyampaikan alasannya kenapa. Tapi aku paham. Paham maksudnya.

Selang beberapa bulan, aku buka Facebook. Ternyata sudah ada akun itu. Kebetulan aku pun terima pertemanannya. Isinya…hmmm…Alamak, ganas!

Parade cerita bertabur hangat, mengulas beberapa objek; dari Rektor Unila yang ditantangnya lomba ngaji, sampai adu debat.

 

 

Kegenitannya juga tersaji dalam cerita pertemanannya dengan ”orang-orang kiri” pada masanya. Lalu cerita kecil tentang gelisahan anak kampus yang hidup di rezim Soeharto.

Hampir satu jam aku satroni akun ”Maruli Reborn”.  Aku cermati caranya bertutur. Caranya menulis. Sampai caranya bercumbu dengan masa lalunya. Menarik.

Bagi orang-orang yang kenal dengannya, mungkin Maruli tidak banyak berubah. Pria yang keras. Tapi bagiku, banyak pelajaran yang dipetik dari caranya berjuang. Caranya berteman. Dan caranya menikmati kopi.

Maruli tetap lestari. Tetaplah jadi dosen yang baik.

Sehat selalu bang. ”Maruli Reborn”.

 

 

 

 

#masipul

About Syaiful Amri

Check Also

Pria Kurus Itu Ternyata Wiro Sableng

FILM dengan genre laga, tentu banyak ya. Tapi, coba cek fantasi film berjudul ”Kapak Maut ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com