Breaking News

Banjir Produk Impor E-Commerce Tak Signifikan Sumbang Defisit

FIN.CO.ID, JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia diketahui defisit sebesar 8,56 miliar dolar AS sepanjang tahun 2018. Penyebabnya tingginya impor yang sangat signifikan, dan kondisi ini terparah sepanjang republik Indonesia berdiri.

Kondisi neraca perdagangan Indonesia ini disentil Calon Wakil Presiden 02 Sandiaga Uno dalam debat Pilpres 2019 pada Sabtu (13/4) malam. Di mana, meski bangga atas kehadiran startup unicorm namun di sisi lain produk tersebut berasal dari impor.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2018 realisasi ekspor mencapai 180,06 miliar dolar AS. Sedangkan impor tercatat sebesar 188,63 miliar.

Menyoal pertanyaan Sandiaga Uno, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda membenarkan apa yang dikatakan mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu.

“Memang ada pengaruh dari membanjirnya barang impor di e-commerce terhadap defisit neraca perdagangan, namun menurut saya juga tidak signifikan,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (14/4).

Huda menjelaskan, bahwa penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan Indonesia itu disebabkan oleh impor pangan yang cukup signifikan.

“Justru yang paling signifikan impor pangan untuk stabilisasi harga agar inflasi tetap di angka 3 persen-an,” kata Huda.

Atas kondisi itu, kata Huda, pemerintah tidak bisa menekan masyarakat mengonsumsi barang impor. Hal itu karena konsumen adalah raja, dan akan memilih barang terbaik serta atas kemampuan kantongnya.

“Menariknya adalah, kita tidak dapat membendung konsumen untuk mengkonsumsi barang impor karena konsumen di e-commerce adalah konsumen yang sangat rasional dengan harga,” ucap Huda.

Nah, atas kondisi itu jadi sangat wajar masyarakat lebih memilih barang impor ketimbang produk hasil dalam negeri. Dan, ini menjadi PR pemerintah bagaimana meningkatkan kualitas produk sendiri.

“Jadi sangat wajar ketika konsumen mempunyai opsi yang lebih murah dibandingkan dengan harga di toko konvensional, maka konsumen memilih barang dari e-commerce,” kata Huda.

Sandiaga Uno sebelumnya menyoroti neraca perdagangan Indonesia yang defisit sebesar 8,56 miiar di 2018. Defisit dipicu karena tingginya angka impor, dan mirisnya Indnesia banjir produk e-commerce impor.

“Sekarang kita defisit neraca perdagangan defisit 8 miliar dolar AS. Kita bangga dengan perkembangan e-commerce dengan unicorn-unicorn tapi kita dibanjiri produk luar negeri,” kata Sandi.

Jokowi membenarkan tentang tingginya angka defisit neraca perdagangan sepanjang 2018. Namun pemerintah telah berhasil mencatat surpus sebesar 330 juta dolar AS sepanjang Februari 2019.

“Artinya usaha kita mati-matian untuk menekan defisit neraca perdagangan. Apa yang kita lakukan ke depan? Substitusi barang-barang impor harus dikerjakan di Indonesia, petrochemical industrinya harus ada di Indonesia karena impor terbesar di situ,” kata Jokowi.

(din/fin)

About Redaksi FIN

Check Also

Kemendag Pastikan Izin Impor Bawang Putih Tujuh Perusahaan Swasta

FIN.CO.ID – Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan memastikan izin impor bawang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss