Breaking News

Salam Damai

SAYA hari ini bangun agak kesiangan. Jam menunjukkan angka 09.10 WIB. Sebenarnya masih cukup malas untuk beranjak dari tempat tidur, tapi perut kosong yang membawaku bangun menuju meja makan. Tapi di sana kosong, gak ada makanan sama sekali

Saya kemudian beralih ke meja kerja saya di tengah. Yang berisi komputer dan peralatan kerja. Saya buka hape.  Saya cukup kaget saat membuka whatsapp grup. Wow….ternyata sudah ada ratusan notifikasi yang masuk. “Rame bener nih grup, gak seperti biasanya” batin saya.

Di hape saya yang cukup jadul itu, ada 17 grup whatsapp. Mulai grup SMP, SMA, kuliah,kantor, hingga grup Silaturahmi mantan teman sekantor.

Kebetulan grup terakhir ini saya yang membuat. Isinya adalah teman-teman saya waktu di sebuah perusahaan media di Jakarta. Saya sengaja menamakan grup itu dengan kalimat Silaturahmi dengan harapan agar persaudaraan di antara kami tetap terjaga.

Dulu kami memang satu profesi, jalan hidup kemudian menentukan lain. Di grup silaturahmi itu ada yang masih tetap menjadi jurnalis, namun ada juga yang sudah beralih profesi. Mereka ada yang bekerja di sektor jasa keuangan, pengacara, hingga menjadi seorang budayawan yang cukup terkenal. Namun yang pasti, mereka semua masih berjiwa jurnalis.

Saat saya membuka isinya, wauw…pembahasannya sudah cukup berat. Yaitu soal video dugaan kecurangan pemilu di Selangor, Malaysia.

Pro dan kontra soal video itu menjadi perdebatan yang hangat menjurus panas. Si A pendukung 02 punya argumen, dan si B pendukung 01 punya argumen sendiri.

Hasilnya? Tentu saja kacau seperti grup lainnya saat berdebat soal Pilpres.

Silaturahmi yang ingin saya bangun bersama teman-teman yang menginisiasi grup ini seperti jauh panggang dari api. Di antara kawan-kawan saya itu memilih keluar dari grup. Saya tidak tahu mengapa mereka keluar. Saya berusaha bertanya kepada salah satunya, namun belum dijawab hingga saat ini.

Yang menjadi perhatian saya, mereka yang keluar dari grup silaturahmi adalah kawan-kawan saya yang masih aktif sebagai jurnalis. Yang saya tahu, semuanya adalah pendukung Capres-Cawapres Prabowo-Sandi.

Sedih sih, kenapa mereka harus keluar dari grup whatsapp ini. Padahal, kami baru saja merencanakan untuk bereuni. Rencananya reuni itu akan kami gelar di rumah mantan Pimred kami yang kini menjadi direktur sebuah stasiun televisi.

Tapi ya sudahlah, itu pilihan mereka.

Kontestasi Pilpres kali ini memang luar biasa. Bibit perpecahan terjadi di mana mana. Tidak hanya di grup whatsapp, di media sosial lainnya juga terjadi seperti itu. Kubu 01 dan 02 selalu panas saat berdebat membela capres pilihannya.

Terkadang, pendukung-pendukung ini lebih galak dari timses capres-cawapres saat berdebat di televisi. Gak pernah ada yang mau mengalah. Full ngotot. Pokoknya pengen menang.

Semoga saja, suasana panas di media sosial tidak sampai merembet menjadi kekerasan fisik.

Duh Pilpres 2019… memang luar biasa. Salam Damai Kawan!

 

Oleh:

Pak We

About Wahyu Sakti

Check Also

Debat di Warteg

JUMAT siang. Saya makan di Warteg. Di bilangan Veteran, Jakarta Selatan. Sepiring nasi dengan lauk ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss