Breaking News
llustrasi:syaifulamri/fin

Hasil Riset, Independensi Media Masih Terjaga

Pengamat: Jangan Terjebak dengan Pernyataan Elite Politik!

 

JAKARTA – G Communication akhirnya mempublis hasil risetnya. Dari data yang diterima, mayoritas media mainstream di Indonesia sejauh ini bersikap netral terhadap pemberitaan kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dalam riset yang bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) itu disebutkan, enam media daring dan cetak, yakni Antaranews.com, Kompas.com, Detik.com, Kompas, Republika dan Jawa Pos dalam kurun 1-31 Maret 2019, secara umum pemberitaan pasangan calon 01 dan 02 diberitakan secara berimbang.

“Netralitasnya terlihat. Meskipun media cenderung netral, tetapi pemberitaan paslon 01 lebih banyak di semua media yang dimonitor. Hal ini wajar karena status calon 01 sebagai petahana yang sudah punya program yang dikerjakan,” tutur Direktur G Communication Andi Irman di Jakarta, kemarin (10/4).

 

Terkait jumlah berita pilpres, Detik.com terpantau sebanyak 790 berita, Antaranews.com 377 berita, Kompas.com 368 berita, sedangkan media cetak Kompas 64 berita, Republika 46 berita dan Jawa Pos 36 berita.

Media daring mendominasi pemberitaan terkait pilpres daripada media cetak sehingga terlihat minat pembaca media daring lebih banyak karena mudah diakses.

Nah, secara kuantitatif, porsi pemberitaan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebanyak 906 berita, sementara pasangan Prabowo-Sandiaga 590 berita serta berita umum seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebanyak 185 berita.

Isu kampanye terbanyak yang diberitakan, untuk pasangan calon nomor urut 01 adalah program tiga kartu Jokowi serta kampanye terbuka di Banten, sementara pasangan urut 02 kampanye akbar dan program kerja mudah. “Ada pun untuk wilayah pemberitaan kedua pasangan calon paling banyak masih di Jawa, yakni pemberitaan dari DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur,” paparnya.

Terpisah, Pengamat Politik dari Rumah Rakyat, Maruli Hendra Utama mengatakan, dari sisi pemberitaan sampai paparan iklan yang termuat di media mainstream mayoritas menjaga independensi. “Mereka (media utama, red) benar-benar menjadi pentingnya netralitas itu, dan tak mau terjebak dengan beberap tawaran yang sifatnya menghasut dan mengandung unsur hoaks,” terangnya.

 

Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Lampung itu menambahkan, kondisi ini juga terjadi dengan media online atau koran-koran besar di daerah. “Sempat saya cek, saya baca, beberapa media di antaranya Radar Cirebon, Fajar, Radar Lampung, Sumatera Ekspres, Radar Banten, termasuk media yang memiliki jaringan besar seperti FIN (Fajar Indonesia Network) media-media ini benar-benar lurus. Menjaga independensinya,” terang mantan aktivis 98 itu.

Yang menarik, sambung Mantan Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu, media kerap terpancing dengan pernyataan dan prilaku elite politik nasional yang sedang asik bermain-main dengan nasionalisme dan mempertaruhkan keutuhan bangsa. “Saya sangat menyayangkan, adanya sejumlah elite politik yang saat ini mempertaruhkan keutuhan bangsa untuk kepentingan politik sesaat pada pemilu presiden 2019,” timpalnya.

Menurut Maruli, pada kampanye pemilu presiden 2019, ada pasangan capres-cawapres dan tim kampanyenya yang menyampaikan visi, misi, dan program pembangunan Indonesia ke depan.

Namun ada juga, kata dia, capres-cawapresnya dan tim kampanyenya yang menyampaikan propaganda negatif dan membangun pesimisme pada bangsa Indonesia. “Pasangan capres-cawapres ini berserta tim kampanyenya sering menyampaikan narasi negatif, yang merupakan upaya untuk memenangkan pemilu presiden,” katanya.

Narasi negatif dan pesimisme yang terus dibangun, akan membahayakan nasionalisme dan persatuan bangsa. “Masyarakat yang selama ini hidup rukun dan damai, dibangun wacana negatif sehingga menjadi terpolarisasi,” katanya.

Dampak dari adanya polarisasinya akan memiliki efek rusak yang cukup berkepanjangan di masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya hidup rukun, kata dia, saat ini menjadi berbeda pandangan dan berhadapan.

Pada kesempatan tersebut, Maruli mengimbau sekaligus mengingatkan masyarakat, untuk selalu cermat menerima informasi serta jernih memilih informasi mana yang konstruktif dan mana yang destruktif.

“Masyarakat harus cermat memilih informasi dan cerdas mengambil keputusan. Begitu pula dengan media, jangan terpancing dengan kata dan provokasi yang dampaknya buruk terhadap keutuhan bangsa. Klarifikasi, sertakan data dan fakta itu lebih penting,” timpalnya. (syaiful amri/fin)

 

About Syaiful Amri

Check Also

Polisi akan Patroli Grup WhatsApp, Moeldoko: Ya Memang Harus Begitu

FIN.CO.ID, Bereskrim Polri berencana memantau aktivitas grup WhatsApp yang terindikasi sebar berita bohong dan provokasi. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com