Breaking News

Nyumbang

”Jadi gimana Bos!”, sahut ku kepada seorang calon anggota legislatif. Lewat sambungan telepon. Sore tadi.

Sebut saja namanya Bandrek. Hari itu entah mengapa, sudah tiga kali dia telepon. Tapi ketika diangkat, mendadak mati. Entah ponselku yang rusak, atau telingaku yang budek.

Tapi memang tak terdengar. Serius, tidak terdengar.

Bandrek teman lama. Seingatku, sudah tiga kali dia nyaleg. Kalau sudah musim pemilu, sibuknya luar biasa.

Sayang, dia gagal melulu. Padahal secara penampilan oke punya. Kalau bicara menggelegar. Ya, cocoklah disebut motivator kelas kelurahan (maaf).

Wawasannya lumayan. Apalagi bicara politik, tata negara dan cara pandang dalam urusan mengelola duit negara. Wah dahsyat. Ngelesnya itu lho, pinter banget.

Bandrek dari keluarga berada. Bapaknya dulu ekonom. Bekas kepercayaan Pak Harto. Dia lama tinggal di Jakarta.

Nah, pasca kerusuhan 98, dia pulang ke kampung. Banyak yang dikerjakannya. Dari usaha minyak, sampai buka kantin di pinggir rel. Boleh dibilang pasang surut.

Singkat cerita, tahun ini dia nyaleg lagi. Kabar itu aku dapat, ketika lewat dipertigaan gang rumah ada posternya. Bagus. Pakai peci. Di belakangnya ada logo partai. Plus logo foto calon presidennya. Pokoknya keren.

Kenapa aku jadi ingat Bandrek. Karena dia sosok fenomenal. Cerdas dan berani mengkritik pemerintah, meski rata-rata salah. Ya, salah.

Karena penasaran, aku pun telpon balik. ”Siap bos. Perintah!” tanyaku, sesaat setelah dia menerima panggilanku.

”Aku nyaleg. Aku mintalah sumbangan,” timpal Bandek dengan gaya khasnya. ”Sumbangan,” jawabku. ”Ya sumbangan. Aku mau nyaleg. Sekarang lagi musim rakyat nyumbang. Di mana-mana disumbang. Capresku saja dapet banyak sumbangan,” terangnya.

Karena bingung, aku pun menjawab. ”Sumbangan untuk apa. Kamu kan sudah kaya Ndrek. Uang mu lebih banyak dari aku,” jelasku.

Bandek sepertinya enggan berlama-lama. Berulang kali dia mencoba memotong pertanyaanku.  ”Ini demi Indonesia Adil dan Makmur. Masa lu ga paham!” sergahnya, juga dengan nada ya lantang.

Entah mengapa, aku seketika tertawa. Ya tertawa sampai Bandrek marah. ”Lu ini payah. Payah bener. Dimintai gitu aja susah. Bagaimana bangsa ini maju,” tandasnya seraya mematikan sambungan bicara.

Jujur, aku geli. Ya geli sekali mendengar alasannya. Tapi itulah Bandrek. Temanku yang Fenomenal. Dalam hati, aku cuma berujar. ”Semoga kau sehat selalu teman,”.

 

#masipul

 

About Syaiful Amri

Check Also

Misteri Cewek Cantik

INI menarik untuk dicermati. Juga untuk dipelajari. Karena kecanggihan teknologi dan karena kebebasan informasi, semuanya bebas. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com