Breaking News

Mang Pi’ik Kontra Bang Eca

SAYA menyebut ini pembuktian. Ya, bulan pembuktian dari rangkaian hasil lembaga-lembaga survei yang dikemas dalam balutan opini, profiling, karakteristik, zonasi, basis massa, maupun teori lainnya, yang dipakai untuk mengkalkulasi angka-angka itu.

Saya sendiri tidak pernah percaya dengan hasil survei. Meski mereka mengklaim, responden dirangkum secara imliah, teori yang dipakai, keilmuan yang sahih atau apalah alasannya.

Kenapa? Alasannya sederhana. Hasil survei ini selalu dipertentangkan oleh siapa pun yang merasa terpinggirkan. Angka-angka yang disajikan terlalu menyakitkan. Ya, menyakitkan.

Jangankan, Prabowo atau Sandiaga Uno. Mang Pi’ik saja, mengaku ”enek” dengan paparan survei yang menghiasi televisi di warung kopinya tadi sore.”Saya tetap 02 bang. Yakin saya dah!” tandasnya seraya menyodorkan kopi saset cap Kapal Api.

”Dulu Ahok dibilang menang. Eh, taunye kalah die,” timpalnya.  ”Saya sih, males denger-denger begituan bang. Yang beginian (survei, red) udah basi dah. Lihat aja nanti hasilnya,” sahut Mang Pi’i dengan logat Betawi-nya yang begitu khas.

Perspektif Mang Pi’Ik tidak salah. Terlalu konyol juga enggak. Ya sah-sah saja. Siapa pun boleh bersuara. Bersuara di alam demokrasi. Apalagi di warung kopi. Semua orang bebas berpendapat.

 

Sebelum mendengar celotehan Mang Pi’ik. Saya juga sempat ngobrol dengan seorang pegawai di lingkungan Pemprov Lampung. Beberapa hari lalu. Saat saya pulang kampung. Sebut saja namanya Johan. Aku biasa memanggilnya Bang Eca.

Pria ini, ASN tulen. Rajin ngantor. Dan kegemarannya Offroad. Boleh dibilang sosok teladan. Teladan bagi bagi saya, entah bagi orang di sekelilingnya. ”Aku ngantor dulu bro. Selepas Isya. Kita nongkrong di Kopi Aceh oke!” jawab Eca lewat pesan WhatsApp ketika aku mengajaknya untuk bertemu.

Aku sengaja mengajaknya ngobrol. Kangen dengan candanya. Dan kebetulan hari itu kantorku libur. Karena biasa, satu hari menjelang kalender merah, redaksi istirahat.

Jadilah kami bertemu. Banyak yang dibicarakan. Dari soal kondisi Lampung saat ini. Sampai obrolan politik. Tentu saja tak jauh-jauh dari Pilpres. ”Aku Jokowi. 01, dah pas itu. 01 yang unggul,” lugas dia menjawab.

”Aku cuma terima kasih. Lampung lebih baik. Ya lebih baik bro. Aman, nyaman, infrastruktur terjawab sudah. Wajar kalau ada PR-PR lama belum tuntas,” terang Bang Eca.

Ditanya soal survei. Dia pun sempat terdiam. Sejurus mengangkat kepalanya dan berkata. ”Aku ngak melihat itu bro. Elektoral, itu biasa. Biasa saja. Apa istimewanya. Kalau surveinya menangin yang sebelah. Nah ini menarik, ya menarik. Bisa kita perdebatkan metodologi statistika, atau sempling lainnya,” ucap Eca seraya menyodorkan Roti Cane khas warung Aceh di tepi Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandarlampung.

Nah, dari pengakuan Mang Pi’ik dan Bang Eca, tentu bisa ditarik kesimpulan. Keduanya tidak begitu percaya dengan hasil survei. Ini berbeda dengan kengototan sejumlah peneliti yang biasa bermain dengan angka-angka.

Hadi Suprapto Rusli misalnya. Terang dia menyebut surveinya kali ini menggunakan simulasi gambar. Hasilnya elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 50.8 persen dan Prabowo-Sandi sebesar 32 persen dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 17.2 persen.

”Elektabilitas kedua pasangan calon ini relative stabil.Sama-sama naik sedikit. Dan pemilih yang disurvey belum menentukan pilihan semakin mengecil,” terang Prapto, peneliti dari Indo Barometer dengan gaya dan logatnya yang meyakinkan.

Sementara Denny JA Ardian lebih-lebih meyakinkan. Ia mengklai masyarakat masih puas terhadap kinerja Jokowi. ”Seorang petahana akan mudah terpilih jika mayoritas masyarakat puas dengan kinerja petahana selama menjabat,” sebut Denny dalam rilis yang ia kirim ke emailku.

Jokowi, sebut Denny, mengantongi 69.5 persen. Hanya 25.6 persen yang menyatakan tidak puas dengan kinerja Jokowi. Nah uraian Denny ini berbeda dengan pemaparan angka yang disuguhkan Indonesia Development Monitoring (IDM).

IDM menyebut pasangan Jokowi-Maruf dipilih oleh 969 dari 2.500 responden atau sekitar 38.76 persen. Sedangkan Prabowo-Sandi dipilih 1.440 responden dari 2.500 responden yang disurvei atau 57.6 persen. Sedangkan yang tidak memilih sebanyak 91 responden atau sekitar 3.64 persen.

Direktur Eksekutif IDM Bin Firman TResnadi mengatakan, dari hasil survei dari responden yang mengaku sebagai simpatisan parpol pengusung Jokowi-Ma’aruf Amin, hanya 613 dari 1.067 responden atau 57,45% yang mengaku akan memilih Jokowi.

“Sementara 454 responden dari 1.067 atau 42,55% memilih Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dengan alasan Prabowo merupakan pilihan mereka saat Pilpres 2014,” terangnya.

Ya. Itulah angka-angka.

Angka-angka yang bisa membuat suhu ruangan menjadi sejuk yang awalnya hangat, badan jadi bergairah dan senyum mengembang.

Tapi ada juga yang tubuhnya kaku, lemas, sampai marah-marah. Mengkambinghitamnkan angka-angka itu dengan berbagai alasan.

”Fuck the numbers. our work is maximal, people speak. The survey was purchased, processed because of the order,” celoteh abdi dalem saat kongkow bareng dengan mantan petinggi BUMN di sebuah rumah megah bilangan Jakarta Selatan.

Melihat kondisi ini, sangat wajar, jika berbagai rumah sakit di daerah, mulai menyiapkan ruangan khusus bagi mereka yang akan ”menjadi gila” lantaran angka-angka. Saat ini dan pasca 17 April nanti.

Dan wajar jika aku lebih percaya Mang Pi’ik dan Bang Eca. Karena keduanya tak percaya angka-angka. Mereka lebih melihat realitas, apa yang dirasa, meski belum terasa. Tabik!

 

 

Syaiful Amri

Wakil Pemimpin Redaksi

Fajar Indonesia Network

 

About Syaiful Amri

Check Also

Debat di Warteg

JUMAT siang. Saya makan di Warteg. Di bilangan Veteran, Jakarta Selatan. Sepiring nasi dengan lauk ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss