Debat di Warteg

JUMAT siang. Saya makan di Warteg. Di bilangan Veteran, Jakarta Selatan. Sepiring nasi dengan lauk telor asin dan sayur sop. Ini menu kesukaan saya. Murah, meriah, kenyang.

Seorang pemuda datang. Pesan makan juga. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, pemuda itu mengeluarkan lembaran dari dalam tasnya. Selembar poster. Gambar Caleg dan Capres-Cawapres. Sepertinya, Caleg PDIP dan Capres 01.

Saat pemilik Warteg menghidangkan makanan, pemuda tadi memperkenalkan diri.

Oh, saya tau; dia relawan Jokowi-Ma’ruf. Relawan itu menyodorkan poster, yang ternyata berupa kalender 2019. Kepada ibu pemilik Warteg. Minta untuk ditempel di dinding Warteg.

Datang lagi dua pelanggan Warteg. Dua pemuda. Berboncengan motor. Dua pemuda baru datang, duduk di meja tak jauh dari si relawan 01.

Relawan 01 mulai mensosialisasikan program-program Capres 01. Juga profil Caleg banteng moncong putih itu. Seperti program aneka kartu yang dibagi-bagikan Jokowi, Sertifikat tanah untuk rakyat, dana desa, pembangunan jalan tol, dan masih banyak lagi. Juga membidik Capres 02, Prabowo Subianto. Soal penguasaan tanah HGU ratusan ribu hektar. Juga soal ke-Islamannya yang diragukan.

Mendengar “kampanye” sang relawan, dua pemuda tadi langsung meng-counter. Membantah. Soal bagi-bagi kartu, dia nilai tidak efektif. Soal sertifikat tanah, itu  hanya pencitraan. Urgensinya tak ada bagi rakyat kecil. Karena yang dibutuhkan rakyat saat ini; ekonomi membaik, harga-harga murah, mudah cari kerja, dan jaminan keamanan. Soal  jalan tol, dia nilai hanya menguntungkan orang kaya saja.

Dan soal tanah milik Prabowo, dinilai bisa jadi boomerang buat Jokowi. Karena, sejumlah Timses Jokowi menguasai tanah HGU lebih luas dari Prabowo. Kenapa Jokowi tak menertibkan mereka. Soal ke-Islaman Probowo, itu urusan dia dengan Tuhannya. Lagi pula, tidak mungkin ijtima ulama mendukung Prabowo, kalau ke-Islamannya masih diragukan.

Perdebatan makin seru. Saling jual-beli argumen. Saling bantah-membantah.

Pengunjung Warteg pun kian bertambah ramai. Kebanyakan hanya pasif. Jadi pendengar. Mungkin ada yang suka mendengar perdebatan. Tapi saya yakin, banyak yang enek. Muak. Males mendengarnya.  Kecuali seorang pria setengah baya ini. Sepertinya ia scurity. Terlihat dari pakaian yang dikenakan. Dia ikut nimbrung dalam  debat. Dia  masuk kelompok dua pemuda. Lebih pro ke Capres 02.

Berdebatan semakin tak imbang. Tiga lawan satu. Sang relawan mulai terpojok. Ia segera menyudahi makannya. Membayar. Lalu ngeloyor pergi.

Dua pemuda menyusul pergi.  Dengan senyum sumringah. Mungkin, dua pemuda ini juga relawan Timses 02. Mereka merasa menang.

Saya yang sedari tadi jadi pendengar yang baik, pun hendak menyudahi nongkrong di Warteg, siang hari ini. Saat bayar, saya pun iseng-iseng tanya ke ibu pemilik Warteg:

“Seru ya bu, diskusinya?”

“Iya, mas. Sudah sering di sini. Orang-orang pada ngomongin politik. Saya mah nggak ngerti.”

“Oh, terus ibu nanti pilih siapa?Jokowi apa Prabowo?

“Saya nggak pilih dua-duanya”

“Ibu golput? Sayang bu. Suara ibu ikut menentukan masa depan Indonesia loh..”

“Saya nggak Golput. Tapi saya pilih Anies Sandi aja.”

“Anies mah gubernur Jakarta atuh bu?”

“Itu, yang muda dan ganteng. Yang sering di tivi..”

Sambil cengengesan.

“Oh, itu Sandi. Wakilnya pak Prabowo. He..he..he..”

Debat kusir di warung makan ini terlihat sederhana. Tapi, apa yang dilakukan relawan itu layak diapresiasi. Begitulah seharusnya dalam berkampanye: mensosialisasikan program-program jagoannya. Bukan menyebar hoaks. Bukan caci-maki calon lawan. Bukan membongkar aib pribadi calon lawan.

Begitu juga cara mendebat dua pemuda tadi. Layak dijadikan contoh. Bagi pasangan calon (paslon) Capres-Cawapres. Dalam debat Capres. Mendebat dengan argumen dan data. Dengan bahasa yang baik. Tidak emosional ataupun menyerang pribadi.

Debat Capres ke depan, semestinya begitu; adu argumen terkait program kerja. Terkait visi dan misi. Head to head. Moderator hanya sebagai pengatur ritme debat. Tak perlu ada panelis. Tak perlu ada soal atau pertanyaan dari panelis. Karena ini debat. Bukan cerdas-cermat. Bukan pula tes wawancara.

Seharusnya format debat itu: free fight. Tarung bebas. Untuk membuktikan bahwa calon pemimpin yang akan dipilih benar-benar memiliki kemampuan. Menguasai tema debat. Memiliki program dan gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, rakyat punya referensi. Punya pertimbangan ilmiah, logis dan realistis, dalam menentukan pilihannya. Bukan karena sentimen pribadi; karena fisik, suku, golongan, ataupun agama.

Menarik kan? Dah, gitu aja. (*)

 

Oleh:

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network