Produksi dan Kebutuhan Jagung Masih Terjadi Gap

Komoditas jagung. Foto: Istimewa

FIN.CO.ID, JAKARTA – Komoditas jagung sudah mulai panen raya. Namun antara produksi dan kebutuhan jagung sampai saat ini masih terjadi gap untuk memenuhi peternak unggas. Persoalan ini merupakan PR (pekerjaan rumah) pemerintah untuk segera dibenahi.

Direktur Pakan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Sri Widayati menyatakan kebutuhan jagung dipastikan terpenuhi untuk memenuhi pasokan pakan ternak dan unggas tahun 2019 ini.

“Karena akan telah memasuki panen raya yaitu di bulan Februari-Maret 2019 ini. Jadi pasokan jagung untuk peternak unggas akan terpenuhi kebutuhannya,” kata Sri di Jakarta, Kamis (28/2).

Sri mencontohkan, di sejumlah daerah seperti di Kabupaten Lamongan, Tuban, Blora dn sejumlah provinsi lain seperti di Kalimantan dan Sumatera, tengah panen raya.

“Di desa Mojorejo, Kabupaten Lamongan luasan panen jagung pada minggu I-III bulan Februari 2019 mencapai 496 hektar dan provitas 10,3 ton/hektar. Maka akan dihasilkan jagung sebanyak 5.109 ton,” ujar Sri.

Sementara di Kecamatan Montong Kabupaten Tuban, kata Sri, luasan panen mencapai 8.434 hektar. Dari luasan itu diperkirakan mampu memproduksi 63,26 ribu ton jagung. Sedangkan untuk Kabupaten Tuban mencapai luasan 50.673 hektar.

“Di sana provitas mencapai 7,5 ton/hektar. Untuk di Kabupaten Blora yang merupakan sentra jagung terbesar kedua Jawa Tengah setelah Kabupaten Grobogan, luas panen pada bulan Januari-Maret 2019 mencapai 26.977 hektar dengan produksi jagung kurang lebih 157 ribu ton,” tutur Sri.

Hasil panen ini, lanjut Sri, mampu menurunkan harga jagung kadar aiar 15 persen-17 persen yang semula Rp5.500 turun menjadi Rp4.200- Rp4.600/kg. Demikian juga di Semarang yang mencapai level Rp4.400 dari harga semula Rp5.600-Rp.

“Jadi kondisi panen raya jagung di mana-mana ini telah direspons dengan baik oleh perusahaan pakan ternak (feedmill) yang sebagian besar melaporkan adanya penurunan harga pakan, baik pakan broiler maupun layer,” ucap Sri.

Terpisah, Ketua Gabungan Perusahaan Makaban Ternak (GPMT) Desianto berharap produksi tetap stabil atau tidak ada penurunan produksi.

“Dengan stabilitas harga jagung diharapkan bisa menciptakan stabilitas harga produk komoditas peternakan, yaitu daging dan telur, sehingga mampu menekan angka inflasi,” kata Desianto.

Sementara pemerhati pertanian, Juli Julianto mengatakan, melihat banyaknya daerah yang mulai panen jagung, maka produksi jagung di dalam negeri melimpah ruah. Hitungannya stok jagung di dalam negeri pun akan bertambah.

“Namun yang kerap menjadi persoalan adalah tidak ketemunya antara produksi dan kebutuhan, khusus peternak unggas,” ujar Juli kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Kamis (28/2).

Alhasil, kata Juli, terjadi gap antara produksi dan kebutuhan para peternak unggas. “Nah persoalan ini yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah, bagaimana bisa mempertemukan petani jagung dengan peternak unggas,” ucap Juli.

Juli menjelaskan, pemerintah harus menyambungkan antara peternak unggas dengan petani jagung. Pertemuan tersebut akan menghasilkan solusi dalam memenuhi pasokan jagung untuk peternak unggas.

“Begitu juga dengan perusahaan pakan ternak besar, bagaimana mereka berkomitmen untuk menyerap produksi jagung dalam negeri,” pungkas Juli.

(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here