Breaking News

Mengutuk Incest  

MIRIS. Prihatin. Kesal. Marah. Benci. Campur aduk. Bergemuruh. Ingin menumpahkan sekaligus kepada para pelaku. Ya, kasus incest. Perkosaan yang dilakukan oleh ayah kandung, kakak kandung dan adik kandung. Korbannya; AG berusia 17 tahun. Seorang gadis berkebutuhan khusus. Yang juga masih sekandung. Gadis difabel. Anak piatu. Telah ditinggal ibunya, untuk selamanya.

Tiga laki-laki; ayah, kakak dan adik, yang seharusnya melindungi satu-satunya perempuan di keluarga itu, malah jadi penjahat biadab. Mereka memperkosanya secara bergiliran. Bukan sekali. Ratusan kali. Bukan baru sehari. Tapi, sudah tahunan.

Miris. Kejahatan itu dilakukan di kediaman mereka, di Pekon Panggung Rejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Para penjahat itu sudah ditangkap. Aayah kandung korban berinisial M (45), kakak berinisial SA (24) dan adik korban YF (15).

Mereka bukan keliarga primitif, yang tak tersentuh pendidikan. Mereka juga tidak tinggal di tengah hutan, sehingga terisolir dari lingkungan sosial. Mereka tinggal di lingkungan yang lumayan padat penduduk. Tinggal di rumah permanen. Sudah melek digital; televisi, handphone dan lain-lain. Bahkan, mereka sering menonton video porno di handphone. Berarti, bisa beli paket data. Berarti, sudah melek internet ataupun media sosial (medsos).

Para ahli teori psikologi menilai, perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk mentaati hukum. Tindakan kriminal umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama yang berlaku di masyarakat.

Albert J. Reis menyebutkan, ada dua macam kontrol yang dapat mencegah tindak kriminal. Yaitu; personal control dan  sosial control. Personal control ialah kemampuan dalam diri seseorang untuk menahan diri, agar tidak mencapai kebutuhannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sedang social control ialah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga yang ada di masyarakat untuk melaksanakan norma-norma atau peraturan-peraturan menjadi lebih efektif.

Fenomena incest ini seperti gunung es. Tak begitu tampak, tapi sudah banyak kasusnya. Bahkan, mendekati darurat. Berdasarkan Komnas Perlindungan Anak (KPAI), pada tahun 2017, ada 1.210 kasus incest yang dilaporkan. Ini sudah sangat mengkhawatirkan.

Karena itu, seluruh elemen; pemerintah, penegak hukum, pemuka agama dan masyarakat umum, harus dioptimalkan peran dan fungsinya dalam menghentikan kekerasan seksual. Apalagi, dilakukan oleh anggota keluarga.

Ini tidak boleh dilihat sebagai persoalan private. Jangan dibilang, ini urusan masing-masing keluarga. Masyarakat perlu meningkatkan kepedulian satu sama lain. Rame-rame mengutuk pelaku incest. Bila perlu, dihukum sosial. Dikucilkan. Agar ada efek jera. Tak hanya pada pelaku, tapi juga ada efek jera bagi orang lain. Agar tidak melakukan hal biadab itu.

Selain itu, penegakan hukum harus diberikan maksimal kepada pelaku incest. Mereka dikenai Pasal 81 ayat 3 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun. Karena ini dilakukan oleh orang-orang terdekatnya notabene adalah saudara kandungnya sendiri, jadi ancaman hukuman ditambah 1/3 dari ancaman maksimal. (*)

 

Oleh:

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network (FIN)

About Wahyu Sakti

Check Also

Mang Pi’ik Kontra Bang Eca

SAYA menyebut ini pembuktian. Ya, bulan pembuktian dari rangkaian hasil lembaga-lembaga survei yang dikemas dalam ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!