Pilu Hilda

DUA pekan lagi, pernikahan itu sejatinya digelar. Undangan pun telah tersebar. Handai taulan pun telah terkabar. Tapi, rencana itu buyar. Sang mempelai wanita pergi tanpa kabar. Photo-photonya telah disebar. Ceritanya pun jadi viral.

Inilah kisah cinta ala Siti Nurbaya. Terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Di era milineal. Inilah kisah Hilda Fauziah. Gadis belia, berusia 17 tahun. Yang dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Yang sudah dijodohkan sejak anak-anak: kawin gantung. Tapi, Hilda tak tahu. Hilda tak suka dengan laki-laki itu. Yang usianya lebih tua 4 tahun. Hilda menentang perjodohan itu. Hilda sudah punya pacar. Pilihannya sendiri. Hilda pun menolak pernikahan. Memilih kabur. Menghilang. Membuat keluarga kalang-kabut.

Hilda, gadis cantik berkulit putih, warga Cijambu, Cikawung, Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu kabur sejak 4 November 2018 lalu. Hingga kini, tak tau rimbanya. Entah di mana. Polisi pun sudah dikerahkan untuk mencarinya. Tapi, tak jua ketemu. Sudah hampir 4 bulan.  Laki-laki, calon suaminya, pun telah dinikahkan dengan wanita lain. Tapi, gadis berjilbab, pemilik baby face, itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Membuat risau nan galau keluarganya.

Kini, zaman modern. Serbadigitalisasi. Tak ada lagi sekat. Semua tersambung di dunia maya. Tapi, nyatanya masih ada gaya Siti Nurbaya.

Karena sebuah anggapan. Banyak orang tua mengatakan, dijodohkan itu lebih baik daripada pasangan pilihan sendiri. Mereka bilang; kami para orang tua dulu dijodohkan. Dan sampai sekarang, keluarga kami baik-baik saja. Begitulah. Terutama orang tua di pedesaan. Yang belum tersentuh modernisasi. Belum melek teknologi informasi. Macam Facebook, Instagram, Youtube, dan jenis medsos lainnya. Tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Para orangtua itu mengatakan;  “tidak ada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia.”

Bukan sesuatu yang salah sih. Orang tua punya hak. Mencarikan jodoh yang baik untuk anaknya. Memilihkan laki-laki yang tepat, demi masa depan anaknya. Islam pun mewajibkan, orangtua untuk menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang sholeh. Yang mampu. Yang mumpuni. Yang bisa jadi imam dalam keluarga.

Tapi, bukan tanpa kompromi. Semua bisa dibicarakan. Didiskusikan dengan anak perempuan. Karena, ia yang menjalani rumah tangganya. Karena pernikahan bukan untuk sesaat. Kalau bisa; seumur hidup, sekali saja.

Komunikasikan. Itu kuncinya. Kadang, perbedaan generasi menyebabkan perbedaan komunikasi. Akibatnya, jadi salah paham. Tidak nyambung.

Sikap orangtua yang memaksa anak untuk menuruti semua keinginannya, akan membuat anak berontak. Itu sikap otoriter. Biasanya, karena orang tua merasa serba tahu.  Termasuk, serbatahu tentang apa yang terbaik untuk anaknya. Bahkan, mereka juga berpikir bahwa cara tegas dan keras ini dapat berhasil dalam membimbing dan mendidik anak. Padahal anak yang terus-menerus merasa ditekan, dipaksa, dan akhirnya tidak mampu lagi menurutinya, maka akan berontak dan  melawan.

Komunikasi yang efektif. Di sinilah perasaan saling mengerti antara satu sama lain. Artinya, orang tua tidak hanya menjadi orang yang ingin dimengerti. Lebih patut dihormati. Tapi, orangtua juga harus mengerti apa yang diinginkan anaknya.

Dalam membangun komunikasi ini, usahakanlah untuk menjadi pendengar yang baik. Perhatikan intonasinya. Ekspresinya. Bahasa tubuh anak. Agar orangtua dapat memahami kemauan anak.

Hilda dan kisahnya, jadi pelajaran buat kita semua. Ada dua kalimat kunci; jangan memaksakan kehendak, dan selesaikan segala sesuatu dengan komunikasi. Kunci dalam segala hal. Dalam rumah tangga. Juga dalam kehidupan sosial. (*)

 

Oleh:

 Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network

 

About Wahyu Sakti

Check Also

Mengutuk Incest  

MIRIS. Prihatin. Kesal. Marah. Benci. Campur aduk. Bergemuruh. Ingin menumpahkan sekaligus kepada para pelaku. Ya, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss