Kenakalan Anak Sekolahan

SEORANG siswa SMP merokok di dalam kelas. Ditegur oleh guru. Tak terima. Si siswa mendorong guru. Menarik kerah baju di bagian leher guru. Menantang berkelahi. Kejadiannya di Gresik, Jawa Timur. Videonya tengah viral di media sosial.

Inikah potret generasi muda Indonesia? Degradasi moral. Tidak berakhlak baik. Kualitas generasi yang seperti ini kah yang diharapkan akan memimpin Indonesia di masa datang? 10 sampai 15 tahun lagi. Saat bangsa ini mengalami bonus demografi?

Saat mayoritas penduduk Indonesia berusia muda. 70 persennya. Yang diramalkan Indonesia akan jadi negara maju nomor 5 di dunia. Bila, sukses memanfaatkan bonus demografi. Juga diramalkan akan hancur dan jadi negara tertinggal. Bila, gagal mengelola bonus demografi.

Sukses; bila penduduknya yang muda-muda itu produktif. Memiliki skill mumpuni. Berpendidikan. Mampu bersaing di level internasional. Memiliki karakter. Bermoral. Dan mandiri.

Gagal; bila penduduknya yang mayoritas anak muda itu, tidak produktif. Lemah. Pemalas. Pengangguran. Tak berpendidikan. Kalah bersaing dengan SDM negara lain. Mudah putus asa.  Maunya serba instan. Dan cenderung berbuat kriminal.

Penyiapan SDM yang handal itu, harus dimulai sejak dini. Dari sekarang. Untuk mereka yang kini duduk di bangku SD, SMP, dan SMA. Dimulai dari pendidikannya. Harus berkualitas. Juga kesehatannya.

Apa jadinya jika generasi muda yang diharapkan, berani kurang ajar kepada gurunya? Bagaimana ia bisa dapat ilmu bermanfaat? Harapan yang selalu didengungkan dalam setiap do’a. Bagaimana ia kelak bisa bersaing di kancah internasional? Ironis.

Kasus di Gresik ini, hanya salah satu dari kasus-kasus serupa, di tempat-tempat lain. Kasus  kenakalan anak sekolahan. Yang terbaru: pengeroyokan siswa SMP terhadap pegawai sekolah di Takalar, Sulsel.

Sebagai alumni UNJ; dulu IKIP Jakarta, saya punya banyak teman yang berprofesi guru. Bergabung di grup medsos; whatsApp, Instagram, Facebook, dan lainnya. Membahas berbagai persoalan dunia pendidikan.

Salah satu pembahasan seru; kenakalan anak sekolahan. Tak hanya kekurang-ajaran murid kepada guru. Tapi, juga tawuran antar pelajar. Kekerasan seksual. Pemalakan. Hingga merokok dan Narkoba.

Silang pendapat. Ada yang menyalahkan Undang-Undang perlindungan anak. UU itu dinilai dijadikan tameng oleh anak-anak nakal itu. Katanya, siswa berani “ngelunjak” pada gurunya, karena tahu sang guru tak akan berani mengasarinya. Guru pun jadi sulit menangani anak-anak nakal. Serba salah: Kalau dikasari, bisa berhadapan dengan hukum. Tidak dikasari, anak nakal tersebut susah untuk diarahkan.

Padahal, melakukan “mengasaran” (bukan kekerasan) juga dalam rangka mendidik. Membina. Melindungi siswa dari “kegagalan” masa depan. Melindungi siswa dari ilmu tak berkah.

UU yang dijadikan “tameng” para anak nakal ini harusnya dikaji ulang. Dibuat pengecualiaan untuk dunia pendidikan. Guru jangan ditempatkan  sebagai pelaku kriminal, ketika memberikan pembinaan pada siswanya yang nakal. Harus ada batasan-batasan tertentu, mana yang dianggap sebagai pembinaan dan mana yang tindakan kriminal.

Banyak yang setuju. Tapi ada juga yang berpendapat beda. Kenakalan anak sekolahan disebabkan karena faktor lingkungan: keluarga, tempat tinggal, masyarakat, sekolah, dan tontonan.

Ada juga yang berpendapat; karena krisis teladan. Bahkan ada yang menyalahkan guru itu sendiri; kurang bisa mendidik anak, kurang berwibawa, dan lain sebagainya.

Tapi yang pasti, kenakalan anak sekolahan menjadi tugas kita bersama. Semua pihak harus ikut andil. Keluarga, masyarakat, juga pemerintah. (*)

 

Oleh:

 

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here