Breaking News
Taruna ATKP Makassar, Aldam Putra yang tewas dianiaya senior

Selain Dianiaya, Taruna ATKP Makassar Juga Dihukum Makan Sabun

FIN.CO.ID, MAKASSAR –– Pertemuan orang tua taruna ATKP Makassar menguak kecurigaan baru. Penyiksaan taruna diduga telah berlangsung lama.

Sekitar 80 orang tua taruna ATKP menyambangi rumah keluarga almarhum Aldama Putra Pongkala, di kompleks AURI Mandai Minggu, 10 Februari. Sepanjang jalan menuju rumah taruna yang tewas saat menjalani pendidikan di ATKP itu, terparkir mobil dan motor.

Dari pertemuan itu, ayah Aldama, Pelda Daniel Pongkala meminta kepolisian juga memeriksa Pembantu Direktur III ATKP Makassar, serta pengasuh kampus yang bertugas pada malam meninggalnya Aldama.

Permintaan pemeriksaan itu berdasarkan kecurigaan ikut terlibatnya pengelola kampus pada kekerasan yang berujung kematian salah seorang taruna.

“Banyak (orang tua taruna) yang datang. Mereka menyampaikan keluh kesahnya terkait anak-anaknya yang juga sekolah di ATKP Makassar. Saya siap menampung uneg-uneg mereka dan menuntaskannya langsung agar tidak ada korban lagi,” ungkap Daniel setelah para tamunya itu pulang.

Kemarin, ibu Aldama, Mariati mulai banyak bercerita tentang kondisi Aldama selama di ATKP Makassar. Dia selalu menjadi curahan hati putra tunggalnya tentang pengalaman dan kondisi selama di kampus.

Soal asmara pun akan berlabuh di telinga Mariati. Bukti kedekatan mereka juga terlihat dari beberapa akun media sosial Aldama yang aktif dipantau Mariati. Soal password pun bukan rahasia di antara mereka berdua.

“Aldama sering cerita apa pun sama saya. Biar masalah asmaranya. Cuma, memang selama sekolah di ATKP, dia tidak pernah mau bilang kalau sedang sakit. Tidak mau cerita. Sering sakit-sakitan begitu selama di ATKP,” beber perempuan dengan balutan jilbab hitam itu.

Aldama sering mengeluhkan perut dan sekujur tubuhnya yang sakit. Badannya juga pernah panas-dingin dan selalu batuk-batuk.

Mariati menyangka, anaknya sakit flu biasa. Beberapa hari menjelang penyiksaan maut itu, Aldama sempat beristirahat karena sakit tersebut. “Saya sempat mengira sakitnya karena amandelnya kambuh. Tapi dia bilang sendiri, bukan. Dia cuma bilang sakit ringan biasa,” imbuhnya.

Dia kemudian memberinya obat. Bahkan, ia sempat membekali obat untuk anaknya setiap berangkat ke kampusnya.

“Mungkin tidak mau cerita karena Aldama tahu kalau bapaknya (Daniel, red) orangnya keras. Kalau ketahuan selama ini dapat siksaan dari seniornya, pasti sudah didatangi kampusnya langsung,” ujar Mariati lagi.

Tuntut Periksa Ayah Aldama, Daniel Pongkala mengungkapkan, penyiksaan taruna ternyata sudah lama terjadi di kampus ikatan dinas itu. Bahkan, ada oknum pengelola kampus yang juga diduga terlibat. Kecurigaan itu berdasarkan pengakuan para orang tua taruna yang berkumpul di rumahnya.

Daniel menyebutkan, penyiksaan-penyiksaan itu cenderung lebih kejam dan tak jarang berujung pada kontak fisik. Misalnya, tamparan ke pipi kiri dan kanan, masing-masing 50 kali. Akumulasi perlakuan kejam dari kontak fisik semacam itu, kata Daniel, bisa jadi penyebab Aldama meregang nyawa. Puncaknya, ketika Aldama diminta bersikap taubat.

Seringnya perut Aldama sakit atau badan panas-dingin ditengarai karena pernah menjalani hukuman memakan sabun. Beberapa orang tua taruna menyebutkan sanksi itu pernah dialami anaknya langsung.

Daniel juga mendapatkan informasi bahwa di perut Aldama dijumpai busa sabun. Informasi itu diperolehnya dari rekan Aldama yang juga berada di RS Sayang Rakyat saat malam kejadian tewasnya taruna baru itu.

“Banyak jenis penyiksaan yang dialami taruna-taruna. Cuma, selepas kejadian itu, mereka sudah didoktrin oknum kampus untuk diam. Itu karena oknum (pengelola) kampus beberapa kali juga terlibat dalam penyiksaan semacam itu,” kata Daniel.

Ia pun meminta agar kepolisian juga mendatangkan Pembantu Direktur III, Irfan untuk dimintai keterangan. Ditambah lagi, tiga pengasuh yang stand by pada malam kejadian nahas itu.

Irfan dan pengasuh kampus ATKP yang pertama kali berada di RS Sayang Rakyat ketika Aldama meninggal. Mereka lah yang ditemui Daniel dan menunjukkan jenazah Aldama dengan alibi terjatuh dari kamar mandi.

Menurut Daniel, titik terang kejadian yang menewaskan anaknya, akan terungkap selain dari taruna yang telah ditetapkan tersangka, Muhammad Rusdi.

“Saya tuntut agar Pudir III ATKP diperiksa. Termasuk tiga pengasuh yang bertugas malam itu,” tegasnya berapi-api.

Status Direktur ATKP, Agus Susanto yang dinonaktifkan, sama sekali bukan jawaban yang diinginkan Daniel. Menurutnya, direktur jadi korban karena risiko jabatannya sebagai pimpinan.

“Sejauh ini, direkturnya juga aktif menjalin komunikasi dengan kami,” sesal lelaki yang pernah ditawari satuannya ini untuk menjadi pengasuh kampus ATKP Makassar.

Pembantu Direktur III, Irfan tak bisa dimintai keterangannya terkait kejadian pada malam insiden nahas itu. FAJAR berupaya mencarinya di lingkungan kampus, namun tak terlihat.

Ia juga sudah mulai menghindari pihak keluarga, semenjak Aldama tewas di tangan seniornya.

Daniel masih percaya pada penanganan penyidik Polrestabes Makassar. Hanya saja, jika kasus ini tak membuahkan hasil, keluarganya siap menempuh jalur lain.

Mereka juga telah mendapat isyarat pendampingan hukum dari beberapa pengacara. 10 Taruna

Pengacara kondang, Hotman Paris pun angkat bicara terkait kasus kematian taruna ATKP akibat penganiayaan seniornya. Setelah mendapatkan kronologi lengkap kejadian lewat sambungan telepon dengan Daniel, Minggu pagi, 10 Februari, ia menuntut pihak kepolisian untuk menyidik keempat oknum pengelola kampus itu.

“Periksa pengasuh dan wakil direktur (wadir) ATKP Makassar. Siswanya tewas dianiaya senior. Kenapa tersangka cuma satu orang? Padahal kamar senior itu dihuni banyak orang. Kenapa kita harus mengemis keadilan di negeri sendiri?” ujar Hotman saat menerima kedatangan adik-adik Daniel di Kopi Joni, Jakarta, Minggu, 10 Februari.

Kemenhub Kementerian Perhubungan juga menurunkan tim investigasi. Saat ini baru memeriksa 15 taruna. Masih ada 384 taruna dan taruni ATKP Makassar yang akan diperiksa.

Turunnya tim investigasi Kemenhub terkait tewasnya salah seorang taruna, Aldama Putra Pongkala, di kampus ATKP, Minggu, 3 Februari.

Hasil penyelidikan awal pada 6-7 Februari telah diserahkan ke Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Salah satu keputusannya, menonaktifkan Direktur ATKP Makassar, Agus Susanto dan memberikan skorsing kepada Muhammad Rusdi, senior yang tersangka penyebab kematian Aldama.

Salah seorang tim Mitigasi Kemenhub, Capt Novyanto Widadi mengatakan, setelah melakukan investigasi internal, pihaknya menduga telah terjadi penyimpangan terhadap sistem dan prosedur yang berlaku. Penyimpangan itu menyebabkan Taruna ATKP Makassar meninggal. Namun, untuk penyebab pastinya masih menunggu hasil investigasi dari penyelidikan yang tengah dilakukan pihak kepolisian.

“Berdasarkan hasil investigasi internal, Pak Menteri memutuskan untuk melakukan pergantian personel terhadap seluruh lini di ATKP Makasar yang terlibat pada saat kejadian,” kata Novyanto saat ditemui di Kampus ATKP Makassar, Jl Salodong, Minggu, 10 Februari.

Kedatangan Tim Mitigasi Kemenhub untuk memastikan keadaan taruna pasca insiden, Minggu, 3 Februari lalu. Tim datang bersama konselor ahli dalam kejiwaan dan melakukan proses wawancara kepada taruna.

(mam-gun/rif-zuk)

About Afdal

Check Also

Gakumdu Sita Rp3 ,6 Miliar Uang Serangan Fajar

FIN.CO.ID, JAKARTA – Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) mencatat ada 19 operasi tangkap tangan (OTT) ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss