Inflasi Sulit Dikendalikan di 2019

FIN.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan tingkat inflasi di 2019 masih terkendali dan terjaga, yakni di bawah 3,5%. Namun jika melihat fiskal yang sangat ketat saat ini rasanya tak mungkin inflasi bisa dikendalikan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, inflasi akan terkendali di tahun ini. “Di Februari, tingkat inflasi berdasarkan suvei pekan pertama berada di 0,07% (month to month) dan 2,72% (year on year). Inflasi Februari lebih rendah dari Januari 2019,” ujar Perry, baru-baru ini.

Perry juga memastikan, bahwa inflasi hingga akhir tahun 2019 adalah lebih rendah dari titik tengah 3,5%. Hal ini karena harga pangan dan komoditas lainnya terjaga.

“Tingkat inflasi ditargetkan BI di lvel 2,55 sampai 4,5% atau 3,55% plus minus 1%,” kata Perry.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di bulan Januari 2019 sebesar 0,32%. Berdasarkan pantauan BPS di 82 kota terjadi inflasi 0,32%. Jelas dia, Inflasi 0,325 pada Januari membuat inflasi di tahun kalender dari Januari 2018 sebesar 0,32% dan year on year (yoy) 2,82%.

“Dengan angka 0,32% tingkat inflasi tahun kalender masih sama 0,32%, sedangkan inflasi tahun ke tahunnya 2,82%,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

Suhariyanto menuturkan, dari 82 kota yang disurvei 73 kota mengalami inflasi, sementara 9 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi disebabkan oleh kenaikan daging ikan di Tanjung Pandang, sebaliknya deflasi tertinggi di Tual 0,87%.

“Inflasi di awal bulan masih bagus, inflasi pedesaan 0,265 sedikit lebih rendah,” ujar Suhariyanto.

Pengamat ekonomi, Suroto menilai sepanjang tahun 2019 inflasi akan sulit dikendalikan karena faktor kebijakan fiskal yang terlalu ketat.
“Tahun ini saya kira pemerintah tidak akan lagi dapat kendalikan inflasi rendah karena posisi fiskal kita semakin ketat. Kalaupun akan terus dipaksakan maka akan jebol cadangan (devisa) kita,” ujar Suroto kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (10/2).

Menurut Suroto, pemerintah tidak perlu mengendalikan inflasi untuk investasi karena insentifnya tak ada.
“Pengusaha semua mengeluh kok dari pengusaha kecil sampai pengusaha besar. Apalagi pemerintah tidak banyak berikan opportunity buat usaha-usaha kecil untuk ciptakan reserve fund. Padahal kan faktor ekonomi kita ada disini,” punkas Suroto.

(din/fin)