Separoh Nyawa Wartawan

DULU. Ketika saya baru menjadi wartawan. Seorang senior bilang: menjadi wartawan itu, sama saja meletakkan sebelah kakinya di penjara. Separoh nyawanya telah pergi. Itu risiko jadi wartawan benar. Wartawan jujur. Wartawan ideal. Yang tidak ada kompromi pada kejahatan.

Hari ini, genap 18 tahun saya mengabdi di dunia jurnalistik. Waktu yang belum terlalu lama. Seusia remaja. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi saya.

Separoh nyawa wartawan, sudah diletakkan di tangan Malaikat Izroil. Malaikat pencabut nyawa. Seperti yang dialami Jamal Ahmad Khashogi. Wartawan Saudi, yang nyawanya melayang di kantor Konjen Arab Saudi di Turki. Yang sampai hari ini, kasusnya masih menyisakan misteri. Kematian yang sangat tragis.

Khashogi juga kolumnis Washington Post. Penulis. Mantan manajer umum dan pemimpin redaksi Al Arab News Channel. Di dunia internasional, ia dikenal atas kontribusinya untuk Al Watan. Tulisan-tulisannya banyak mengkritisi kebijakan kerajaan. Utamanya terkait putra mahkota; Mohamad Bin Salman alias MBS. Khashogi dibunuh dengan sadis, karena terkait pekerjaannya.

Di Indonesia, kini sedang hangat kasus pembunuhan wartawan Radar Bali; AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Bukan soal peristiwa pembunuhannya. Karena peristiwanya sudah terjadi sepuluh tahun silam. Tapi soal pemberian potongan hukuman (remisi) oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), terhadap I Nyoman Susrama.  Otak dan pelaku utama pembunuh Prabangsa. Remisi dari sebelumnya seumur hidup, menjadi 20 tahun penjara.

Tentu saja, ini adalah langkah mundur terhadap penegakan kemerdekaan pers. Keputusan itu menyakiti hati kami. Keputusan ini mengundang protes dari  kalangan jurnalis. Jokowi diminta mencabut remisi untuk Susrama. Apalagi, remisi itu diberikan menjelang  Hari Pers Nasional (HPN).

Tanggal 9 Februari, adalah hari nasional kami. HPN 2019 digelar di Surabaya, Jawa Timur. Mengambil tema: “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”.

Ada perbedaan antara wartawan dulu dan sekarang. Soal etos kerja. Tentu juga perbedaan secara umum, atau pada umumnya.

Yang dimaksud dulu, belum jauh benar. Pasca reformasi, sampai tahun 2010 an. Bukan dengan zaman Belanda, atau era tahun 1960-an. Salah satunya karena perkembangan teknologi informasi. Apalagi, di era media sosial (medsos).

Dulu, setiap wartawan berlomba untuk mendapat berita eksklusif. Saling bobol berita, itu hal yang biasa. Bahkan jadi kebanggaan. Juga prestasi. Untuk mendapat berita eksklusif, sering main kucing-kucingan. Terkadang, mengunci kamar saat mewawanca dengan nara sumber. Supaya tidak ada wartawan lain yang mendapat informasi itu.

Sekalipun itu teman baik. Apalagi isi wawancaranya pun tak akan dibocorkan pada wartawan lain. Tidak ada bagi-bagi berita. Kecuali tentu press release yang bisa difotokopi. Keesokan harinya, baru wartawan lain akan memaki-maki dengan kesal, karena kecolongan. Lain waktu, gantian bobolin beritanya. Begitulah. Tapi kompetisi berjalan sehat.  Persahabatan tetap jalan.

Sekarang, umum diketahui bahwa kerjasama sesama wartawan merupakan hal biasa. Saling pinjam catatan. Tukar hasil wawancara. Bahkan bertukar berita yang sudah jadi. Sehingga hampir tidak ada lagi berita eksklusif. Mereka bilang, karena rasa solidaritas. Solidaritas yang kelewat batas. Tentu saja, ini mendegradasi kualitas medianya.

Cara memperlakukan pers dan wartawan, pun berbeda dari zaman ke zaman. Di era Orde Baru, pers dikekang. Media dibatasi. Wartawan diawasi.  Diintimidasi. Apalagi bila beritanya terkait sisi negatif penguasa.

Reformasi membawa angin segar bagi kebebasan pers. Media menjamur. Wartawan bebas memberitakan apapun. Termasuk kritik pada pemerintah. Asal tidak bertentangan dengan kode etik jurnalistik. Pekerjaan jurnalis pun dilindungi oleh undang-undang. Dibawah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Secara norma tertulis, pers mendapatkan perlindungan hukum dan kebebasan di bawah naungan UU tersebut.

Kini di era medsos, kebebasan jadi kebablasan. Sulit membedakan antara berita bersumber fakta dan hoaks. Informasi begitu mudah disebar, tanpa konfirmasi terlebih dahulu akan kebenarannya.

Selamat Hari Pers Nasional (HPN) 2019. Pers Jaya, Wartawan Sejahtera. (*)

 

 Oleh:

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network