Rindu Politainment

POLITIK adalah panggung sandiwara. Mari pertontonkan politik yang menghibur. Yang santun. Yang sportif. Yang jauh dari caci-maki. Jauh dari fitnah-memfitnah. Jauh dari hoaks. Dan jauh dari intimidasi dan persekusi. Politik yang mengedepankan adu gagasan. Adu program. Adu argumentasi. Adu strategi. Dan adu visi-misi. Politainment. Begitu saya menyebutnya.

Pemilu tak ubahnya seperti pertandingan sepakbola. KPU sebagai panitianya. Bawaslu wasitnya. Kontestan: partai politik, Caleg, Capres-Cawapres adalah pemainnya. Para pendukung adalah suporternya. Semuanya harus mengikuti aturan. Bergerak sesuai tupoksinya.

Dalam pertandingan, harus ada lawan. Lawan adalah juga kawan. Tak ada lawan, tak ada pertandingan. Harus saling serang. Tak menarik, jika tak saling serang. Tapi, serangan yang tetap pada fairplay. Jangan melakukan pelanggaran.  Yang melanggar, dikasih peringatan. Kartu kuning. Satu. Dua. Ketiga, kartu merah. Silahkan keluar. Jangan ikut permainan. Wasit harus netral. Penyelenggara harus obyektif.

Pertandingan harus ada penonton. Tak seru, jika tak ditonton suporter. Tapi penonton jangan ikut bermain. Cukuplah jadi penyemangat. Tak bikin kegaduhan. Tak bikin huru-hara. Tak menghina ataupun mencaci pemain lawan. Tak bawa SARA di lapangan pertandingan.

Pemain-pemain hebat, seperti Leonel Messi, Christiano Ronaldo, Mohamad Salah, sangat ciamik menjaga permainan. Dengan strategi, taktik dan teknik tingkat tinggi, permainan jadi tontonan yang mengasyikkan. Lincah, tegas, keras, tapi tetap santun. Usai pertandingan, mereka bersalam-salaman. Saling berangkulan. Menyadari;  hari ini lawan, lain waktu bisa jadi kawan. Satu tim, satu seragaman.

Dalam politik juga tak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang ada, kepentingan sama yang abadi. Pemilu kali ini, dia jadi lawan. Pemilu periode depan, bisa jadi kawan. Maka, tetaplah jaga persaudaraan.

Berpolitik santun; begitulah seharusnya. Kini, kesantunan itu mulai pudar. Main hajar sini, hajar sana. Caci maki ini, caci maki itu. Fitnah si ini, fitnah si anu. Dan seterusnya.

Apakah gaya politik santun sudah tidak lagi menjadi katalis penting lagi? Entahlah. Mungkin negeri ini sudah ketularan politik Amerika. Di sana, di negeri paman Syam, terbukti Donald Trump sukses memenangi Pilpres. Trump yang urakan. Si mulut besar yang penuh kontroversi itu. Nyatanya bisa mengalahkan Hillary Clinton, mantan ibu negara dan Menlu AS, yang santun itu.

Relasi antara bahasa dengan kekuasaan, sepertinya sudah tak relevan. Dulu, masyarakat lebih senang dengan gaya komunikasi yang santun. Dengan pendekatan personal. Sekarang, tidak seperti itu lagi. Mungkin efek media sosial (medsos). Meskipun isi medsos seringkali tak bisa dipertanggungjawabkan. Cenderung hoaks. Di medsos, orang bisa lempar batu sembunyi tangan.

Rakyat rindu Politainment. Politik santun, identik dengan penggunaan bahasa yang kalem. Tidak menyakiti hati pihak lain. Tidak membuka aib pribadi orang lain. Meskipun pribadi lawan. Cenderung defensif. Tidak ofensif.

Dalam politik santun ini, biasanya tokoh politik menggunakan eufemisme atau ungkapan yang tidak menyinggung perasaan. Atau ungkapan halus untuk menggantikan kata-kata yang dirasakan menghina atau tidak menyenangkan. Intinya, mempergunakan kata-kata dengan arti baik.

 

Sekarang; pasca Pilpres 2014, politik kita begini: loe jual, guwe beli. Cara ofensif dilawan dengan ofensif. Debat kusir. Saling sindir. Saling nyinyir. Lupa adu gagasan dan program. Lupa menyampaikan visi misi. Akhirnya, rakyat lah yang rugi. (*)

 

Oleh:

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network