17, October, 2021

Mahalnya Tol Trans Jawa

FIN.CO.ID, JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menyoroti mahalnya tarif Tol Trans Jawa.
Pada Rabu (6/2), YLKI bersama Jasa Marga, MTI, akademi, BPJT, pemerhati kebijakan publik dan Kemenhub melakukan kegiatan ‘Susur Tol Trans Jawa”, dari Jakarta sampai Surabaya.

Hasil penelusuran Tol Trans Jawa, ada beberapa catatan dari Ketua YLKI, Tulus Abadi, yakni salah satunya mahalnya tarif Tol Trans Jawa.

“Secara keseluruhan tarif tol Trans Jawa masih dirasa mahal, baik untuk kendaraan pribadi dan atau angkutan truk. Akibat dari hal ini, volume trafik di jalan tol Trans Jawa, masih tampak sepi, lengang. Bak bukan jalan tol saja, terutama selepas ruas Pejagan,” kata Tulus kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (8/2).

Oleh karena itu, saran Tulus, tarif Tol Trans Jawa mesti diturunkan. Menurut Tulus, karena kemahalan tol Trasn Jawa masih relatif sepi dari kendaraan.

“Usulan agar tarif tol Trans Jawa dievaluasi/diturunkan, menjadi hal yang rasional. Masih sepinya jalan tol Trans Jawa, jelas dipicu oleh tarif tol yang mahal itu,” ujar Tulus.

Tulus menilai, Tol Trans Jawa terancam gagal menjadi instrumen untuk menurunkan biaya logistik, karena mayoritas angkutan truk tidak mau masuk ke dalam jalan tol.

“Dari keterangan Ketua Aptrindo, Gemilang Tarigan, yang tergabung dalam tim Susur ini, menyatakan bahwa sopir tidak dibekali biaya untuk masuk tol. Kecuali untuk tol Cikampek,” tutur Tulus.

“Truk akan masuk tol Trans Jawa, jika biaya tol ditanggung oleh penerima barang. Terlalu mahal bagi pengusaha truk untuk menanggung tarif tol Trans Jawa yang mencapai Rp 1,5 juta,” imbuh Tulus.

Selain itu, Tulus juga mengkritisi harga makanan dan minuman di rest area yang terbilang masih sangat mahal. Untuk itu, Tulus mendesak pengeloa tol untuk menurunkan biaya sewa lahan bagi para tenan.

“Sebab patut diduga, mahalnya makanan/minuman karena dipicu oleh mahalnya sewa lahan bagi para tenan. Dan diminta agar para tenan mencantumkan daftar harga (price list) terhadap makanan/minuman, dan barang lain yang dijualnya,” kata Tulus.

Hasil pengamatan Tulus, sepanjang jalan tol juga belum terpasang rambu-rabu yang memberikan warning terhadap aspek safety. Seperti peringatan peringatan untuk hati-hati, waspada, jangan ngantuk, dan marka getar, terutama di titik titik kritis.

“Ini sangat penting agar pengguna jalan tol tidak terlena karena jalan tol Trans Jawa yang lurus, dan jarak jauh,” ujar Tulus.

Juga, Tulus meminta manajemen trafik di rest area favorit harus lebih diperkuat. Karena sumber kemacetan baru justru potensi terjadi di rest area tersebut, khususnya di ruas Cikampek.

“Apalagi setelah Jasa Marga akan menggeser gate Cikarang Utama (Cikarut), ke titik km 70, di ujung tol Cikampek. Pergeseran loket pembayaran untuk melakukan rekayasa lalu lintas, sebab sudah tiga tahun terakhir ini mayoritas pengguna tol Cikampek adalah para commuter dari Bekasi, Cikarang dan sekitarnya yang jumlahnya mencapai 60 persenan,” papar Tulus.

Tulus juga meminta pengelola Tol Trans Jawa untuk memperbanyak kapasitas toilet untuk perempuan.

“Hal ini untuk menghindari antrian panjang, apalagi saat peak seassion. Dan menyediakan portable toilet/mobil toilet,” pungkas Tulus.

Soal harga tarif Tol Trans Jawa Mahal, Head of Corporate Finance Jasa Marga, Eka Setya Adrianto mengatakan, penghitungan tarif Tol Trans Jawa sudah berdasarkan tender.

“Jadi, itu (menggunakan Tol Trans Jawa) pilihan. Kalau mereka merasa mahal, ya lewat luar, kalau merasa advantage lewat dalam (tol),” kata Eka di Jakarta, Kamis (7/8).

Penggunaan Tol Trans Jawa, menurut Eka, pengiriman barang lebih singkat ketimbang jalan arteri.
Kalau dia (pelaku usaha logistik) dapat revenue dua kali lipat karena bisa bolak-balik lebih cepat harusnya bisa balancing cost-nya, ujar Eka. (din/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer