Imlekan ala Betawi

SEHARI sebelum imlek. Saya ke pasar Rawa Belong, Jakarta Barat. Mencari titipan istri; ikan bandeng. Yang besar. Yang berbobot 2 sampai 3 kg/ekor.

Di pasar Rawa Belong, ada puluhan lapak. Semua menjual ikan bersisik putih mengkilap itu. Ada pedagang tetap. Banyak juga yang musiman. Yang berdagang saat menjelang imlek saja. Bandeng yang dijual, pun besar-besar. Ini hanya ada pas mau imlek saja. Ini yang banyak diburu; yang ukuran besar. Untuk sajian Imlek.

Ini sudah jadi tradisi. Rutinitas tiap tahun. Tiap menjelang imlek. Ada banyak calon pembeli. Bukan hanya Thionghoa. Di pasar ini, 90 persen pembelinya adalah pribumi; orang Betawi. Muslim. Bukan Budha ataupun Kong Hu Cu. Saya, sebagai menantu orang Betawi, ikut antre beli.

Satu kali putaran. Akhirnya saya dapat. Saya beli seekor. Beratnya 2,2 kg. Lumayan. Sampai rumah, istri sumringah. Bandeng dipindang. Esoknya, pas libur Imlek, bandeng pindang dibawa ke rumah mertua. Dimakan bersama keluarga besar. Juga bersama bandeng-bandeng dari menantu lainnya.

Bagi orang Betawi, tradisi masak Bandeng di hari Imlek itu, sudah ada sejak zaman kolonial. Biasanya, selain Bandeng, juga ada kue keranjang atau dodol china. Konon, semakin besar Bandeng yang dibawa, semakin kesohor si menantu di mata mertua.

Memang ada yang tanya ke saya: kok orang Islam ikut merayakan Imlek? Saya pun punya jawaban, yang juga sudah turun-temurun. Katanya, sejarahnya dulu, Imlek itu bukan Hari Raya suatu agama:  Buddha, Tao, ataupun Kong Hu Cu.

Imlek merupakan suatu perayaan tradisi Tionghoa. Dirayakan saat menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin. Biasa dirayakan oleh Suku Tionghoa di China. Pun ketika mereka ‘hijrah’ ke Indonesia. Imlek dirayakan setiap pergantian tahun China.

Imlek berasal dari Dialek Hokkian. Im = Lunar atau bulan; Lek = Kalender. Artinya, tahun baru yang dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Tahun Baru Imlek adalah tahun barunya orang Tionghoa.  Nah, karena suku Tionghoa  banyak yang menganut agama Budha, mereka merayakannya di Vihara. Ataupun Kong Hu Cu, di Kelenteng.

Di Indonesia, dulu; tahun 1968, Imlek pernah dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Inpres No 14 Tahun 1967, Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk Imlek.

Pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres itu. Kemudian mengeluarkan Kepres No. 19/2001. Gus Dur menyatakan, Kong Hu Cu sebagai agama yang diakui di Indonesia. Imlek jadi hari libur fakultatif; hanya berlaku bagi yang merayakan. Baru pada tahun 2002, Presiden Megawati menyatakan Imlek  sebagai salah satu hari raya keagamaan Kong Hu Chu, dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Seperti orang Betawi pada umumnya,  sebagai muslim, saya tidak berniat merayakan hari raya agama Khong Hu Cu. Membeli dan memasak ikan Bandeng pada saat Imlek, sekedar mengikuti  tradisi engkong, nyak-babeh Betawi. Yang sudah dilakukan secara turun temurun. (**)

 

Oleh:

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network