Breaking News

Jancuk Jokowi  

APA sesungguhnya yang terjadi di negeri ini?. Kata-kata umpatan dijadikan kebanggaan. Kata-kata saru dijadikan seru. Nama binatang dijadikan identitas diri; kecebong, kampret, dan kini jancuk. Inikah akibat degradasi moral?

Dulu, waktu saya kecil. Kata “jancuk” itu haram keluar dari mulut kita. Bahkan, saat saya masih sekolah dasar. Belum tahu apa arti dari kata-kata itu. Sekedar ikut-ikutan senior. Ayah saya akan sangat murka, kalau mendengar anaknya mengatakan kata-kata itu. Karena “jancuk” masuk dalam daftar “kata terlarang”.

Ketika nyantri pun sama: ada adab berbicara. Ada kitab “akhlaqul banin” ada juga “ta’limul muta’alim” dan “adabud dunya”. Masih banyak lagi, kitab-kitab yang mengajari santri untuk bersopan santun dan bertata krama dalam pergaulan sehari-hari.

Allah SWT pun melarang hamba-Nya memangil orang dengan sebutan yang tidak baik: “… Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Hujurat: 11).

Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Berkatalah yang baik, atau lebih baik diam”.

Apakah jancuk itu panggilan buruk? Mari kita merujuk pada kamus dan sejarah oral bahasa.

Jancok, dancok, atau disingkat menjadi cok (juga ditulis jancuk atau cuk, ancok atau ancuk) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Timur. Terutama Surabaya, Malang, Lamongan, dan sekitarnya. Kata tersebut, biasanya digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, kesal atau untuk membenci seseorang.

Merunut sejarah, kata “Jancok” berasal dari Kampung Palemahan, Surabaya. Kata “Jancok” merupakan akronim dari “Marijan ngencuk” (“Marijan berhubungan badan”). Kata “encuk” merupakan bahasa Jawa, yang memiliki arti “berhubungan badan”. Terutama yang dilakukan di luar nikah. Versi lain menyebutkan bahwa kata “Jancuk” berasal dari kata kerja “diencuk”. Kata tersebut akhirnya berubah menjadi “Dancuk” dan terakhir berubah menjadi “Jancuk” atau “Jancok”.

Meski seiring perkembangan zaman, ada juga yang menggunakan kata “Jancok” sebagai simbol keakraban dan persahabatan.

Ada pula yang merujuk ke akar bahasa Jepang “Sudanco”.  Berarti “Ayo cepat”. Kata itu sering dipakai serdadu Jepang saat romusha. Ada pula yang bilang, kata “jancuk” serapan dari bahasa Arab: Da’suk. Artinya, tinggalkan keburukan.

Ada pula yang menyebut, kata “jancuk” merupakan nama seorang seniman lukis asal Belanda bernama Jan Cox. Dia memang tak pernah ke Indonesia. Namun namanya tertulis di sebuah tank tentara Belanda, saat menjajah Indonesia. Mulai saat itu, pejuang Indonesia mengumpat tentara Belanda dengan sebutan Jan cox. Lama-lama, berubah jadi “jancuk”.

Nah, pembelian gelar “Jancuk” kepada Jokowi merujuk pada asal kata yang mana? Tak tahulah. Yang pasti, menurut Forum Alumni Jawa Timur, gelar “Jancuk” Jokowi merupakan singkatan dari  jantan, cakap, ulet, dan komitmen. Gelar itu diberikan Forum Alumni Jatim dalam acara deklarasi di kawasan Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Sabtu (2/2).

Namun tetep saja, panggilan “Jancuk Jokowi” tak enak didengar.  Terutama bagi kalangan priyayi dan santri, yang masih menjaga tatakrama dan sopan santun. Apalagi, julukan itu diberikan kepada kepala negara. Saya khawatir, ini akan mendegradasi moral dan tata kesopanan di tengah masyarakat Indonesia. Terjadi pengaburan makna kata.

Bagaimana jika penyebutan “Jancuk Jokowi” atau “Jokowi Jancuk” itu disampaikan oleh kubu lawan? Bakal kena undang-undang ITE atau hate speech nggak ya? Bakal bernasib seperti Ahmad Dhani gak ya? (*)

 

Oleh;

Gus Miftah

General Manager Fajar Indonesia Network

About Wahyu Sakti

Check Also

Misteri Cewek Cantik

INI menarik untuk dicermati. Juga untuk dipelajari. Karena kecanggihan teknologi dan karena kebebasan informasi, semuanya bebas. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss