Kopi Bali Miliki Cita Rasa Jeruk

FIN.CO.ID – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia dan telah diekspor ke berbagai negara. Bumi pertiwi yang sangat kaya akan hasil bumi ini dikenal dunia karena memiliki banyak jenis kopi.

Hampir di setiap daerah Indonesia mempunyai kopi sebut saja kopi Gayo dari Aceh, kopi Toraja dari Toraja Sulawesi Selatan, kopi Kintamani dari Bali, kopi Kerinci dari Jambi, kopi Mandailing dari Medan, kopi Flores dari Nusa Tenggara Timur (NTT), kopi Malabar dari Bandung dan banyak lagi.

Setia kopi memiliki cita rasa yang berbeda, ada yang rasanya seperti buah-buahan atau fruity/citrussy, ada rasa kacang/nutty, ada pula rasa kopi floral atau bunga dan masih banyak lagi. Rasa kopi yang khas dimasing-masing daerah ditentukan oleh letak geografis dan kandungan tanah dimana pohon kopi itu tumbuh.

“Kopi Bali memiliki cita rasa yang unik ada rasa jeruknya. Karena di Bali perkebunan kopi berdampingan dengan pohon jeruk. Pohon jeruk berfungsi melindungi pohon kopi agar tidak kena matahari langsung,” jelas John Lee, Master Roaster Tanamer Coffee pada Ulang Tahun Tanamerah Coffee di Kemang, Jakarta, Kamis (24/1).

John menjelaskan ketika pohon jeruk ditanam di dekat pohon kopi, buah jeruk yang jatuh ke tanah akan membusuk sendiri di tanah sehingga nutrisinya kembali ke tanah dan terserap oleh pohon kopi. “Makanya cita rasanya seperti buah jeruk,” ujarnya.

Kemudian kopi Toraja mempunyai kandungan asam yang rendah, berat yang cukup, aroma yang wangi, serta warna yang condong gelap hitam atau kecokelatan. “Aroma kopi Toraja yang kuat juga jadi ciri khas,” lanjut John.

Sedangkan kopi Gayo merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari dataran tinggi Gayo. “Rasanya lebih kompleks, dan asamnya lebih tinggi,” lanjut John.

Dijelaskan pria asal Korea itu, Desa Manikliyu, Kintamani, Bali, menjadi lokasi proses biji kopi yang diperoleh dari beberapa petani di lokasi setempat.

Di Manikliyu, Tanamera Coffee membina serta mengedukasi para petani untuk menaikkan kuantitas produksi, dengan tetap mengutamakan terjaganya kualitas.

Pengawasan dari hulu ke hilir menjadi hal John bahkan selalu berkeliling ke berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia untuk menemukan potensi biji kopi terbaik. Ia juga selalu memberi arahan dan edukasi terhadap petani sebagai mitra di daerah.

“Perlu adanya motivasi dari para petani kopi itu sendiri. Kami sangat berterima kasih karena bertemu dengan petani-petani yang ingin menjaga dan mau belajar proses memproduksi kopi secara benar untuk menghasilkan kualitas yang bagus, bukan hanya sekadar kuantitas besar,” pungkasnya.(dim/fin)