ULTAH SI BANTENG: Ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dan Presiden Joko Widodo memberi sambutan saat Rakornas di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1/2019). Foto: Lutfi / FAJAR INDONESIA NETWEOK.

Rakornas PDIP, Megawati Bercerita

FIN.CO.ID, JAKARTA – Seluruh isi ruangan berwarna merah. Ribuan partisan berkali-kali bersorak. Merdeka, Metal, Jokowi-Amin, kata-kata itu menggema terus-menerus di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

Yang hadir bukan cuma kader, ada juga ketua partai, sejumlah menteri, calon presiden dan wakilnya, dan beberapa anggota DPR RI. Ribuan kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menghadiri Rapat Koordinasi Nasional.

Saat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri naik panggung, ribuan kader kembali bersorak. Metal, mega total, metal, merah total, metal, menang total. Sesaat, semua hening. Ingin mendengarkan pidato Megawati. Mantan Presiden ke-5 itu berbicara tentang perjalanan partai dengan lambang banteng moncong putih.

“Dahulu, partai yang dibentuk 1973 itu bernama Partai Demokrasi Indonesia. Yang merupakan gabungan dari PNI, Parkindo, Partai Katolik, Murba dan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia. Medio 1997, beberapa saat sebelum pencoblosan dirinya didatangi beberapa orang. Dirinya diminta untuk tidak dipilih dalam pemilu saat itu. Hak yang boleh digunakan hanyalah hak memilih, kata Mega menirukan.

Mega masih bercerita. Kepada para anggota PDI, Mega menyampaikan dirinya tetap berniat mencoblos di pemilu. Ia juga meminta kepada kader untuk menggunakan hak pilihnya. Mega berfikir, jika saat itu kadernya akan manut. “Saat pencoblosan, keluarga saya di Blitar ada yang meninggal, selama prosesi penguburan, saya tetap ditunggu oleh KPU yang saat itu namanya LPU,” ucap Mega mengenang kejadian tersebut.

Tapi kenyataan berkata lain. Mega pasrah, saat itu banyak anggota dan kader PDI yang tidak ikut memilih. Suara PDI turun drastis. Akibatnya, pada pemilu 1999 PDI diberbolehkan ikut pemilu dengan catatan wajib mengganti namanya. Saat pendaftaran nama partai, kata perjuangan ditambahkan di belakang. Dan disahkan 1 Februari 1999. Menjadi PDIP saat ini.

Jokowi, Jusuf Kalla, KH Maruf Amin, dan Tri Sutrisno yang duduk di bangku deratan depan terlihat menyimak dengan seksama. Di belakangnya, ribuan kader dan simpatisan juga hening mendengarkan.

Kisah itu selalu ditanamkan kepada para kader. Bersama pengajaran ideology Pancasila 1 Juni 1945. Tujuannya, agar tak lupa perjalanan partai. Parta bukanlah kekuasaan personal atau golongan. Tapi alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita yang ada di Pancasila.

Dalam pidatonya, Mega juga menyampaikan, tidak mau comot orang untuk mendongkrak partai. Dirinya tidak ingin ada kader karbitan. Pintu PDIP selalu terbuka bagi siapa saja, tapi tidak mau juga saya kalau ada kader yang dadakan saat pemilu, terangnya.

Hampir sekira 30 menit lebih Megawati berpidato. Usai dirinya berpidato, pembawa acara melanjutkan. Salah satu kader terbaik PDIP akan memberikan sambutan. Kita sambut bapak Joko Widodo, kata pembawa acara membahana di seluruh ruangan.

Sekira pukul 11.45 WIB, Jokowi naik ke mimbar. Memberikan salam kepada tamu undangan dan kader yang hadir. Tak lama. Jokowi tiba-tiba berhenti. Suasana hening. Adzan dzuhur terdengar. Usai adzan, Jokowi melanjutkan.

Mengawali pidatonya, Jokowi juga bercerita. Tadi saya sempat bisik-bisik dengan ibu ketua, gimana kalau kita undang dua orang sampai ranting dan anak-ranting. Tapi setelah dihitung jumlahnya 3 juta lebih, tempatnya di mana itu yang belum ketemu, kata Jokowi disambut tawa hadirin.

Menurutnya, PDIP sangat beruntung memiliki ketua umum seperti Megawati. Karena memiliki keyakinan ideologi sangat kuat. Mega juga sosok yang memunyai keyakinan politik yang luar biasa. Keyakinan akan pancasila sangat kuat.

Mantan Wali Kota Solo itu tak lama. Mungkin hanya 15 menit berpidato. Ia menuturkan, Indonesia didirikan dengan jerih payah, keringat dan darah para pahlawan. Mereka adalah teladan terbaik yang merelakan hidup dan matinya untuk bangsa ini, ucap Jokowi.

Ia melanjutkan, Indonesia telah 73 tahun merdeka. Banyak capaian dan kemajuan yang telah dialami. Dirinya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan. Ia juga memaparkan, asset terbesar bangsa ini adalah kerukunan, persaudaraan dan persatuan. Jokowi meminta kepada seluruh kader untukbergotong-royong untuk membumikan pancasila.

Gotong-royong diperlukan agar menjadikan Indonesia adil, makmur dan sejahtera. Seluruh kader harus bersama-sama mewujudkan Indonesia yang berdikari. Berkeprobadian, bermartabat di mata dunia. Di akhir pidatonya, ia mengucapkan selamat ulang tahun untuk PDIP. Selamat HUT ke-46. Dirgahayu PDIP. Merdeka, Merdeka, Merdeka, kata Jokowi menutup pidatonya.

(khf/fin)

About Redaksi FIN

Check Also

Menteri Tak Diundang Pada Debat Capres Putaran 4

FIN.CO.ID – KPU memutuskan tak mengundang menteri Kabinet Kerja pada debat pilpres selanjutnya. Pertimbangannya debat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss