Breaking News

JARIMU, HARIMAUMU

Oleh: Miftahurrahman Isbandi

 

FIN.CO.ID-Ribut lagi. Gara-gara jari. Kang Tatang dipukuli. Pelakunya Mas Tarjo dan Bang Acim. Cuman gara-gara jari.

Pepatah bilang; mulutmu, harimaumu. Kalau tidak bisa jaga mulut. Tak bisa jaga omongan. Bisa jadi celaka. Tapi, bagi Kang Tatang; jarimu, harimaumu.

Jari-jari bisa menjadi simbol, untuk mengungkapkan sesuatu. Jari jempol: hebat. Top banget. Oke. Atau untuk menyatakan kesetujuan.

Jari telunjuk: untuk menunjukkan sesuatu. Tapi, bila diarahkan ke muka seseorang, bisa dianggap kasar. Gerakan ini merupakan indikasi perilaku dominan dalam dunia profesional. Misal: atasan ke bawahan. Kalau ditempel di mulut, berarti menyuruh diam. Kalau digerakkan ke kiri dan ke kanan, berarti larangan. Jadi, tergantung pada situasi atau konteks peristiwanya.

Jari tengah. Hampir di semua penjuru dunia, memang dianggap sebagai simbol yang enggak sopan. Sebaiknya jangan digunakan, kecuali kalau kita memang mau ngajak ribut orang. Jari tengah dianggap melambangkan alat kelamin pria. Saat orang mengacungkan jari tengah, itu seakan ngomong “Fuck”.

Dua jari. Namun jari tengah bila bersama dengan jari telunjuk, melambangkan perdamaian. Hal ini diawali saat demo Anti-Vietnam tahun 1960. Para pendemo menggunakannya sebagai lambang cinta dan perdamaian. Lambang dua jari juga bisa menunjukkan kemenangan. Makna kemenangan ini pertama kali dipopulerkan oleh Richard Nixon.

Jari kelingking menggambarkan janji. Biasanya, dua orang akan menautkan jari kelingking mereka untuk membuat perjanjian.

Nah, di tahun politik ini, mengacungkan satu jari atau dua jari, bisa jadi masalah serius. Seperti pagi itu. Mas Tarjo dan Bang Acim berdebat seru. Sampai gebrak-gebrak meja. Sumber debatnya: gubernur DKI, Anies Baswedan, yang acungkan dua jari. Juga Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, yang acungkan satu jari. Keduanya dituding melanggar Pemilu.

Mas Tarjo dan Bang Acim pun membela jagoannya. Masing-masing mempertahankan argumennya. Mas Tarjo bilang, Anies yang melanggar. Bang Acim bilang, Ridwan Kamil juga melanggar. Skor jadi 0:0..? Tidak. Masing-masing merasa menang. Perdebatan pun makin keras dan seru. Keduanya saling tunjuk muka dengan jari telunjuk.

Kang Tatang sedang istirahat. Tiduran. Semalam, lembur. Ia merasa terganggu. Oleh suara debat yang berisik. Kang Tatang bangkit. Menghampiri pusat debat. Meminta Mas Tarjo dan Bang Acim mengakhiri debatnya. Tapi keduanya tak peduli. Kang Tatang kesal.

Kang Tatang marah. Mata merahnya, karena kurang tidur, melotot. Jari telunjuk diacungkan. “You.!” katanya. Menunjuk muka Mas Tarjo. “You..!” katanya. Menunjuk muka Bang Acim. Tanpa kata, lalu mengacungkan jari tengah ke arah keduanya.

Tanpa kata pula. Mas Tarjo melayangkan bogem mentah ke muka Kang Tatang. Disusul Bang Acim.

Hati-hati dengan jarimu.!!

 

Penulis adalah General Manager

Fajar Indonesia Network

 

About Wahyu Sakti

Check Also

Nyumbang

”Jadi gimana Bos!”, sahut ku kepada seorang calon anggota legislatif. Lewat sambungan telepon. Sore tadi. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com