Breaking News

Balada Hansip Vs Security

Oleh: Miftahurrahman Isbandi

 

FIN.CO.ID-Pagi buta. Geger di komplek tempat tinggalku. Pusat geger ada di pos scurity. Rumahnya penjaga keamanan. Juga petugas kebersihan. “Diteror. Kita diteror.” Kata komandan scurity.

Teror, (lagi) teror. Pos scurity dilempar petasan. Dua sekaligus. Untung hanya satu yang meledak. Kecil. Petasan ceplik. Masalahnya, bukan besar-kecilnya ledakan. Tapi, efeknya itu. Warga jadi was-was. Keamanannya terancam. Peneror berani (lagi) masuk komplek. Sasarannya pun: pos scurity.

Memang. Ini bukan kali pertama. Sudah sembilan kali teror. Pernah dilempar petasan. Juga air comberan. Sasarannya pun beda-beda. Petasan membakar pohon. Air comberan disiram ke motor. Bahkan, seorang petugas scurity pernah disiram comberan. Scurity yang paling giat. Berani. Antipungli. Air comberan itu mengenai wajah. Kelilipan.

Teror itu sudah dilaporkan ke ketua RT.  Dugaannya, pelaku adalah Hansip kampung sebelah. Mereka tak suka security. Yang ikut campur urusan dapur Hansip. Tapi pak RT memalingkan mata. Diusut. Tapi setengah hati. Menganggap kabar itu hoaks. Pengalihan isu. Karena jelang Pilkaret 2019 (pemilihan ketua RT), banyak yang menebar berita hoaks.

Kata orang-orang kampung sebelah, Hansip itu masih ada hubungan famili dengan pak RT. Ada lagi yang bilang, adik bapaknya istri Hansip itu merupakan tim sukses RT petahana.

Anggap saja tudingan itu benar. Kira-kira motifnya karena apa ya?  Rebutan jatah preman? Rebutan lapak parkir? Atau rebutan kue apem yang seharga 80 ribu? Lagi-lagi tak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Hanya kabar burung yang beredar: rentetan teror, dari 1 sampai 9, pelakunya sama. Orangnya itu-itu juga. Motifnya sama; belum diketahui.

Kok berani melakukan (lagi)? Jawabnya: Karena merasa aman. Yakin, tak akan bisa terusut. Ada backing orang kuat.

Warga yang merasa terancam keamanannya, menggeruduk pos scurity. Mereka bukan mau menghakimi scurity. Karena scurity jadi korbannya. Warga kumpul di pos scurity untuk mencari bukti-bukti. Setelah itu, mereka mendatangi rumah RT. Menuntut ketua RT agar segera menuntaskan kasus teror ini. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Jika tidak sanggup, warga tak akan memilih dia lagi pada Pilkaret 2019. Pak RT pun hanya bisa menggerutu: ini masalah keamanan kok dibawa-bawa ke politik. (*)

 

Penulis adalah General Manager

Fajar Indonesia Network

 

About Wahyu Sakti

Check Also

Nyumbang

”Jadi gimana Bos!”, sahut ku kepada seorang calon anggota legislatif. Lewat sambungan telepon. Sore tadi. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com