Selasa , 16 Juli ,2019
Breaking News

TAK PUAS, KREDIBILITAS KPU TERUS DIGOYANG

JAKARTA – Jelang pemilu 2019, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyelenggara dinilai mengalami degradasi. Sejumlah berita bohong yang disebarkan melalui media sosial lebih cepat diserap masyarakat.

Akun bodong yang menyebarkan berita hoaks juga sulit diungkap. Akun anonim digunakan untuk menyamarkan. Celakanya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai penyelenggara pemilu dinilai lamban dalam meng-counter isu hoaks tersebut.

Berita bohong dengan cepat menyebar luas dan dikonsumsi masyarakat. Terlebih isu sara kerap digunakan penyebar hoaks. Karena dinilai lebih seksi, dan cepat ditanggapi oleh masyarakat.

Direktur Eksekutif Network for Demokrasi and Electoral Integrigty (Netgrit) Sigit Pamungkas mengatakan, penyelenggara pemilu harus segera introspeksi. Membangun kepercayaan terhadap pemilih tidak mudah, katanya di Gedung Bawaslu, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (8/1).

Sigit memaparkan, ada tiga aspek yang haris dibangun, yakni internal, eksternal dan profesional. Internal mencakup kebijakan yang diambil penyelenggara pemilu. Banyak keputusan yang diambil justru menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Ada juga faktor eksternal, yakni oknum yang memang teroganisir untuk melemahkan lembaga penyelenggara pemilu. Termasuk akun hoaks dan informasi sumir yang disebarkan ke masyarakat.

Yang terakhir profesionalitas, menurut saya ketika KPU mengeluarkan kebijakan harusnya dengan tegas. Jadi jangan selalu menanyakan kepada kedua pasangan tim. Karena ini tentunya akan sukit mendapat titik temu, papar Sigit yang juga mantan komisioner KPU.

Di tempat sama, anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin mengatakan, pihaknya telah bekerja sesuai dengan koridornya. Ia juga menjelaskan, saat ini website Bawaslu telah banyak menginformasikan kepada masyarakat rentang informasi-informasi yang lebih dibutuhkan. Seperti visi misi calon presiden dan wakilnya.

“Kami juga telah membuat satgas anti hoaks, ini melibatkan sejumlah lembaga negara seperti Kominfo dan tim cyber cromer Mabes Polri,” terangnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Viryan Azis menambahkan, pihaknya saat ini mulai sadar pentingnya media sosial dalam menangkal hoaks. Ia mengakui, jika penyebaran berita bohong lebih banyak dilakukan di media sosial.

Pihaknya juga meyakini, jika memang ada oknum yang secara sistematis ingin melemahkan lembaga penyelenggara pemilu. Kami sudah memetakan, dan memang ini bisa dibilang dilakukan secara terstruktur dan sistematis, jelas Viryan.

Ditambahkan, isu hoaks yang paling cepat ditangani dan paling cepat reda adalah tujuh kontainer berisi surat suara. Hoaks tersbut dinilai lebih cepat tenggelam ketimbang isu hoaks lainnya.

Viryan mencontohkan, selama ini KPU banyak doterpa isu hoaks, mulai dari pemilih ganda 25 juta, isi kardus, sampai pemilih ganda 31 juta. Tetapi kami akui kami todak cepat mengcounter, sehingga isu tersebut terus menyebar, tambahnya.

Lebih lanjut Viryan menjelaskan, pihaknya saat ini tengah aktif menggalakkan media sosial di jajarannya. Hal ini dnilai efektif untuk mengcounter berita bohong yang ada di media sosial. Sebut saja facebook, instagram, dan twitter kini mulai digunakan komisoner KPU.

KPU mengklaim, jika proses penyelenggaraan tahapan sudah berjalan 80 persen. Hal inilah yang membuat KPU bisa sedikit lega dan bisa meluangkan sedikit waktunya untuk mengcounter hoaks.

Ditanya menggunakan buzzer, Viryan menolak. Menurutnya, jumlah keseluruhan anggota KPU sampindaerah mencapai puluhan ribu. Jika anggota KPU secara keseluruhan aktif menggunakan medsos dan memberikan pengarahan kepada masyarakat, isu hoaks bisa diredam

Terpisah, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu menjelasakan hasil pantauan Kementerian Komunikasi dan Informatika, akun twitter paling banyak dilaporkan warganet melalui saluran pengaduan konten @aduankonten, aduankonten.id dan nomor WA 08119224545.

“Data sampai pada bulan Desember 2018 dari Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Ditjen Apliikasi Informatika Kementerian Kominfo menunjukkan pelaporan konten negatif di twitter sebanyak 531.304,” terangnya, kemarin (8/1).

Sementara facebook dan instagram dilaporan sebanyak 11.740 kali karena dinilai warganet mengandung konten negatif. Sementara Youtube dan google dilaporkan sebanyak 3.287 kali.

Untuk situs file sharing dilaporkan sebanyak 532 kali. Adapun aplikasi layanan pesan instan, terbanyak dilaporkan melalui kanal aduankonten adalah telegram sebanyak 614 laporan. Sementara LINE dan BBM masing-masing 19 dan 10 kali.

“Total keseluruhan laporan warganet mengenai konten negatif di media sosial sampai dengan tahun 2018 sebanyak 547.506 laporan,” terangnya.

Sesuai dengan Undang-Undang No 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, terdapat 12 kelompok konten yang dikategorikan sebagai konten negatif diantaranya pornografi pornografi anak, provokasi sara, berita bohong, terorisme, radikalisme sampai elektronik melanggar undang-undang lainnya.

Sampai dengan akhir tahun 2018, penanganan konten negatif total sebanyak 984.441 konten. Angka itu termasuk yang dilaporkan dalam bentuk website. Berdasarkan kategori konten tiga terbanyak konten yang paling banyak ditangani adalah pornografi, perjudian dan penipuan.

“Konten pornografi sebanyak 898.108, sementara perjudian sebanyak 78.698 dan konten yang penipuan 5.889,” imbuhnya.

“Kementerian Kominfo mengimbau warganet untuk melaporkan konten internet dan media soaial yang diduga mengandung konten negatif melalui saluran pengaduan konten twitter @aduankonten, aduankonten.id dan nomor WA 08119224545,” pungkasnya. (khf/fin/ful)

About Syaiful Amri

Check Also

Belum Resmi Ditetapkan, Partai Koalisi Jokowi Sudah Rebutan Kursi

FIN.CO.ID – Penetapan hasil pemilu belum dilakukan. Namun, partai politik (parpol) pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin sudah ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com