Kamis , 17 Januari ,2019

MENDADAK SERBA 80 JUTA

Sepekan terakhir, harga barang-barang ini naik drastis. Donat, roti, sepotong ikan, sepotong daging. Melambung tinggi. Ribuan kali lipat. Menjadi: serba 80 juta.Ini memang hanya di dunia maya. Di meme-meme yang bertebaran di media sosial. Tapi berefek juga ke ibu-ibu rumah tangga. Di pasar. Di warung pinggir jalan. Di ruang tunggu sekolah.

Mereka menggunjing soal kenaikan harga-harga itu. Barang-barang yang ada lobang di tengahnya kok jadi mahal. Donat: 80 juta. Sepotong daging ikan, bagian perut: 80 juta. Sepotong daging sapi yg dilobangi tengahnya, juga dijual 80 juta. Anehnya, ada yang tidak berlobang tengahnya, juga dihargai 80 juta. Selembar roti. Hanya karena punya merek: Vanessa. Disertai pesan: maaf kalau harganya kemahalan.
Ibu-ibu macan ternak; mama cantik antar anak, itu ramai bergunjing. Si bibir tipis nan merah, nyerocos: emang dasar laki-laki. Hidung belang. Nggak bisa lihat jidad licin. Lihat kambing dibedakin juga langsung tegang.
Si pipi tembem menimpali: iya, ya jeng. Padahal mah bentuknya sama saja. Rasanya juga sama aja. Daging mentah juga. Si menor ikut nyahut: iya. Saya juga heran. Garis tengahnya juga sama; vertikal. Kan gak ada yang horizontal. Baunya juga sama: asem campur pesing.
Si tampang sosialita menengahi: bentuk boleh sama, bu. Baunya juga hampir sama. Tapi kemasan berbeda. Bungkusnya beda bu. Mereknya juga beda kan bu..mungkin bagi laki-laki pemburu sensasi: beda kemasan, beda pula rasanya.
Saya yang menyimak dari jauh, janya bisa senyum-senyum. Tak berani mendekat. Takut kena semprot juga. Dianggapnya, semua laki-laki sama. Punya perilaku sama: tiap hari makan daging, bosan. Sekali-sekali pingin nyobain tempe. Tempe mendoan. Tempe goreng. Tempe koro. Tempe bongkrek. Tempe gembus. Juga tempe bacem. Pun, ketika tempe jadi setebal kartu ATM.
Saya masih duduk di motor. Kepala menunduk. Senyum-senyum sendiri. Lucu. Pergunjingan yang lucu. Tapi ibu-ibu itu terlihat serius. Sesekali, sewot. Kesal. Terbawa emosi. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin, membayangkan suaminya. Jangan-jangan ada yang begitu. Di luar rumah. Tak semahal itu sih. Mungkin, jajan seharga 800 ribu. Atau, hanya 80 ribu. Tapi tetap saja bikin sewot. Apalagi bila uang belanja di rumah hanya 50 ribu per hari. Itu pun tak lancar. Kadang dikasih. Kadang tak ada sama sekali: maaf, rezeki lagi seret.
Dalam hati saya menjawab; benar juga kata ibu tampang sosialita itu. Ini soal kemasan. Ini soal brand. Soal merek. Yang pasti beda. Yang satu dikemas rapi. Dirawat tiap hari. Dibersihkan. Dikasih pengharum. Dibungkus dengan bungkus yang mahal dan berseni. Disajikan dengan ramah, dengan servis yang bervariasi. Bedakan. Satu lagi dibiarkan apa adanya. Alami. Bau apek. Yang penting, suami masih doyan. Toh tak terlihat: disantap gelap-gelapan.
Soal merek juga beda: milik artis versus milik rumahan. Brand-nya, satu nasional. Satu lagi lokal.Brand dan merek boleh lokal dan rumahan. Tapi kalau dikemas secara apik, suami jadi ketagihan. Betah di rumah. Ogah jajan di luar. Menurut Product New Survey Inovasi Global Nielson, 59 persen konsumen lebih memilih untuk membeli produk baru yang dibuat oleh brand yang terkenal, meskipun harganya lebih mahal.
Menurut riset di Amerika, Jepang, China dan Indonesia, membuktikan bahwa kemasan atau packaging yang baik dan menarik berpengaruh terhadap nilai penjualan. Menurut Louw, A. & Kimber, M. 2007. Dalam bukunya : The Power of Packaging, The Customer Equity Company” mengatakan bahwa packaging memilih nilai yang sangat penting bagi pemasaran: menarik konsumen atau tidak. (*)

Miftahurrahman Isbandi

General Manager Fajar Indonesia Network

About Togar

Check Also

26 DAN FENOMENA ALAM

MUNGKIN hanya kebetulan. Tapi secara data dan ilmiah ini terpapar jelas dalam sejumlah peristiwa. Tanggal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss