Minim Aturan Prostitusi Kian Menggeliat

FIN.CO.ID – Kasus portitusi online yang kembali melibatkan selebriti Indonesia kembali membuat geger semua kalangan. Dua selebriti yang diamankan kepolisian yakni Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila saat diduga melayani pria hidung belang disalah hotel di Surabaya akhir pekan lalu.

Kasus ini Polda Jawa Timur menetapkan dua orang tersangka yakni Endang dan Tantri yang merupakan mucikari portitusi online tersebut.

Namun polisi tidak menjerat Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila dan pria hidung belang yang disebut-sebut seorang poengusaha tambang berinisial R. Mereka hanya dikenakan sanksi wajib lapor dan berstatus saksi dan korban.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan hukum yang tidak dapat menjerat pria hidung belang tersebut.
Menaggapi permasalahan itu, Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatakan dalam pasal yang ada di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) memang tidak ada yang dapat menjerat Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila dan pria hidung belang berinisial R.

Selama ini, kata Fickar, yang ada dan diatur dalam KUHP yakni pasal untuk menjerat mucikarinya. “Yang ada hanya pasal untuk muncikari. Muncikari dihukum karena mencari nafkah dengan cara tidak patut,” katanya saat dihubungi dengan Fajar Indonesia Network (FIN), di Jakarta, Senin (7/1).

Dirinya menjelaskan ketentuan bagi muncikari/germo/penyedia PSK yang dimaksud ada pada Pasal 296 jo. Pasal 506 KUHP. Pasal 296 berbunyi, barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

Sementara, lanjutnya menjelaskan Pasal 506 berbunyi barang siapa sebagai muncikari (souteneur) mengambil keuntungan dari pelacuran perempuan, diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun.

Menurutnya, pasal tersebut berlaku bagi mereka yang belum menikah. “Perbuatan seks laki-laki dewasa dan wanita dewasa yang mana keduanya tidak terikat perkawinan. Dalam KUHP tidak ada sanksinya,” jelasnya.

Namun, berbeda jika kasusnya adalah salah satu ada keduanya telah menikah. Jika ini yang terjadi, baik PSK atau penggunanya bisa dijerat Pasal 284 KUHP tentang perzinaan. “Pasal 284 itu delik aduan. Kalau tidak diadukan istri atau suami yang bersangkutan, maka tidak bisa diperkarakan,” tutupnya.

Hal senada, juga disampaikan oleh Akademisi Universitas Mathlaul Anwar Banten, Ibnu Mazjah mengatakan untuk menjerat pelaku atau pria hidung belang dan PSK memang tidak diatur dalam Undang-Undang, tetapi hanya menjadi perbuatan yang tercela oleh masyarakat.

Jadi, dirinya menilai bilamana ingin membasmi atau mengeliminir kejahatan-kejahatan yang menyangkut asusila, kata Ibnur, pendekatan yang harus dilakukan seharusnya tidak melulu penegakan hukum tetapi pembenahan moral.

“Walaupun penegakan hukum yang bersifat represif sah-sah saja dilakukan, cuma ini hanya menjadi pemadam kebakaran, padam sebentar besok terjadi kembali,” katanya.

Selama ini, Ibnu menambahkan penangan portitusi online yang terjadi dan kerap terjadi kembali seperti tidak menimbulkan efek jera untuk mucikari dan para penyedia jasa sek komersial. “Penangannya hanya untuk ramai-ramai di masyarakat saja, tapi tidak melakukan langkah pencegahannya, jika ingin benahi harus konsisten semua portitusi,” tutupnya.

Penyidik Polda Jawa Timur hingga belum mengirimkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, padahala penyidik telah menetapkan dua orang tersangka kasus portitusi online yang melibatkan dua selebriti Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila. “kita sampai saat ini belum terima SPDP dari kepolisian, tunggu saja,” singkat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dr Sunarta saat dikonfirmasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here