EVAKUASI TERHALANG BANJIR

    ILUSTRASI: SYAIFUL AMRI

    FIN.CO.ID  – Posko pengungsian di Pandeglan, Banten masih dipadati warga. Kondisi makin diperparah dengan banjir yang menggenangi Pasar Labuhan, akibat meluapnya Sungai Cipunten Agung, sungai yang bermuara di pantai Carita.

    ”Namun baru kali ini banjir sebesar ini. Warga juga belum kembali ke rumah masing-masing. Apalagi sekrang tengah banjir,” terang Koordinator posko pengungsi Labuan Abu Salim, kemarin (26/12).

    FOTO: MOHD RASFAN

    Ditambahkan Salim, empat hari setelah tsunami akibat runtuhan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih banyak warga yang memilih tinggal di posko pengungsian. ”Apalagi pada malam hari atau kabar tentang air laut pasang dan aktivitas GAK merebak,” imbuhnya.

    Warga, lanjut dia memilih tidur berdesakan di posko seperti di lapangan futsal Labuan atau di masjid-masjid yang tak jauh dari terminal bus Labuan. Lokasinya memang termasuk cukup tinggi sehingga warga merasa lebih aman.

    FOTO: MOHD RASFAN

    Terpisah Kabagpensat Divhumas Polri Kombespol Yusri Yunus membenarkan adanya peristiwa banjir tersebut. Polda Banten masih berupaya untuk membantu segera mengalirkan air. “Kami berupaya mengambil barang-barang yang menghambat aliran air,” ujarnya.

    Nah, akibat banjir itu, lanjutnya, memang terjadi pengungsian di sejumlah titik. ”Yang pasti, Polri akan membantu para pengungsian. Jadi ada dua pengungsi karena tsunami dan karena banjir,” terangnya.

    FOTO: MOHD RASFAN

    Sementara itu korban Tewas akibat tsunami di Selat Sunda terus bertambah seiring masih terus dilakukannya operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). Hingga kemarin (26/12) pukul 13.00 WIB, tercatat 430 orang meninggal dunia dan 159 lainnya hilang.

    Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mencatat 1.495 luka dan jumlah pengungsi mencapai 21.991 orang. Sementara kerusakan properti meliputi 924 rumah, 73 penginapan, 60 warung, 434 perahu dan kapal, 24 kendaraan roda 4, 41 kendaraan roda 2, dan masing-masing 1 dermaga dan shelter.

    FOTO: MOHD RASFAN

    Sementara itu, Kemenhub mengevakuasi total 1.200 orang penduduk dari Pulau Sebuku dan Sebesi. Komplek kepulauan yang terdekat dengan Krakatau.  Para penduduk tersebut diangkut dengan kapal ferry ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. “Selanjutnya seluruh pengungsi dibawa ke Pendopo Kabupaten Lampung Selatan,” tutur Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo.

    Agus mengatakan, Kementerian Perhubungan akan terus berupaya memberikan dukungan dan bantuan kepada para korban tsunami di Selat Sunda. , baik berupa sarana transportasi maupun bantuan kemanusiaan lain yang dibutuhkan.

    FOTO: MOHD RASFAN

    Aktivitas GAK yang terus meningkat membuat beberapa warga pulau Sebesi memilih untuk mengungsi. Namun, menurut salah satu warga Pulau Sebesi, Umar Hadi, masih banyak juga yang memilih tetap tinggal di pulau dan menjaga rumahnya. ”Ada sekitar 1.500 an orang yang masih di Sebesi. Mereka tinggal karena rumah mereka disini sejak dahulu,” katanya saat dihubungi lewat telepon.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Geologi terus memantau aktivitas tremor Gunung Anak Krakatau (GAK). Selain itu juga melakukan pemantauan kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Sebab kondisi tersebut dapat memicu longsor tebing kawah ke laut dan memicu terjadinya tsunami.

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebutkan BMKG meminta masyarkat di pesisir pantai selat Banten untuk tetap waspada. ’’Menghindari lokasi pesisir atau pantau dalam radius 500 meteri hingga 1 km,’’ katanya. BMKG belum menginformasikan peringatan ini bakal diberlakukan sampai kapan. Sebab kondisi GAK terus mengalami erupsi.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here