26 DAN FENOMENA ALAM

MUNGKIN hanya kebetulan. Tapi secara data dan ilmiah ini terpapar jelas dalam sejumlah peristiwa. Tanggal 26 menjadi tanggal yang mencatat rentetan bencana di Indonesia bahkan di dunia.

Tsunami di Aceh misalnya, terjadi pada 26 Desember 2004. Selanjutnya gempa di Jogja pada 26 Mei 2006. Lalu gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 26 Juni 2010. Dilanjutkan peristiwa meletusnya Gunung Merapi 26 Oktober 2010.

Peristiwa di tanggal yang sama berlanjut dengan runtuhnya jambatan Tenggarong
Samarinda, pada 26 September 2013. Catatan ink belum memuat sejumlah peristiwa di tanggal yang sama di belahan dunia.

Fajar Indonesia Network (FIN) mencoba mengulik beberapa situs di internet. Hasilnya, angka ini dikaitkan dengan kejadian lain, terutama bencana alam.

https://fin.co.id/2018/12/24/tanjung-lesung-lumpuh/

Ya, dari peristiwa meletusnya Gunung Krakatau meletus pada 26 Agustus 1883, Gempa Tasikmalaya terjadi pada 26 Juni 2010, Mentawai dilanda tsunami pada 26 Oktober 2010? dan gunung Merapi meletus pada 26 Oktober 2010.

Tentu saja informasi ini terlalu dipaksakan karena gempa Tasikmalaya berkekuatan relatif kecil hingga tidak menimbulkan kerusakan apa pun, lalu tsunami Mentawai bukan 26 Oktober, tapi 25 Oktober.

Begitu pun gunung Merapi, telah meletus sejak 25 Oktober, hanya saja tanggal 26 memang adalah letusan terdahsyat karena memakan banyak korban jiwa akibat adanya wedus gembel.

Warta di atas juga menafikan bencana bukan tanggal 26, gempa Padang 30 September 2009, tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 dan banjir Wasior 4 Oktober 2010. Jadi, praktis hanya letusan Krakatau dan tsunami Aceh saja yang persis tanggal 26.

Ya, tidak ada yang istimewa dengan 26 kalau disandingkan dengan sederetan angka yang lain. Ia adalah kombinasi angka bilangan puluhan dan satuan yang dijadikan simbol untuk menyatakan nilai atau kedudukan sesuatu.

Numerik itu sendiri tidak bernilai apa pun. Akan sangat berbeda jika angka 26 itu dikaitkan dengan sejarah modern Aceh, terutama jika dihubungkan dengan bulan Desember, apalagi dengan tahun 2004.

Di sini 26 menjadi hidup dalam ingatan orang Aceh; tidak hanya menjadi sebuah simbol mati tetapi mampu memutar dahsyatnya gelombang tsunami dalam memori setiap orang.

 

Angka 26/12 menjadi pembuka duka dan nestapa yang akan diingat sepanjang sejarah manusia. Dalam posisi itu, angka 26 menjadi amat bermakna.

Namun, sebuah situs di dunia maya juga melansir daftar lebih dari 30 gempa bumi dahsyat di dunia yang terjadi pada tanggal 26, mulai dari Lisbon, Portugal, pada 26 Jan 1531 sampai gempa bumi Italia pada 26 Oktober 1997. Daftar ini memang amat mencengangkan.

Tetapi, orang yang suka mengutak-atik wikipedia akan menemukan bahwa gempa bumi tanggal 26 yang terjadi antara 1900 hingga sekarang menembus angka 50 dari 1.316 kali gempa. Tetapi, tanggal terbanyak gempa bukan 26 tetapi 14 (57 kali), lalu 25 (55 kali) dan seterusnya.

 

Jadi, menetapkan 26 sebagai numerik khas bencana adalah tidak tepat. Anehnya, dalam Alquran surah urutan nomor 26 adalah asy-Syu‘ara (para penyair), memang disebutkan banyak hal tentang azab. Apakah ini berarti 26 memang memiliki arti mistis?

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh Dr. Ali Abubakar, M.Ag berpendapat, fenomena pesan-pesan angka ini sesungguhnya juga ditemukan dalam tradisi keilmuan Islam.

Dalam buku Mukasyafah al-Qulub al-Muqarrib min Allam al-Ghuyub, Imam al-Ghazali mencatat sebuah hadis tentang sebab Nabi menganjurkan agar umatnya berpuasa pada 10 Muharram (hari Asyura).

Ini karena pada tanggal tersebut ada 10 peristiwa penting terjadi, lima yakni perahu Nabi Nuh terdampar di bukit Judi, Nabi Ibrahim lahir dan diselamatkan dari api unggun.

Lalu Nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara, Nabi Musa dan pengikutnya diselamatkan di Laut Merah, Nabi Isa dilahirkan dan pada tanggal yang sama diangkat ke langit.

Di sini tampak bahwa 10 Muharram menjadi simbol kemenangan dan kegembiraan. Pengecualian untuk ini adalah peristiwa pembantaian Husein, putra Ali bin Abi Talib dan pengikutnya, oleh tentara Yazid bin Muawiyah di padang Karbala pada 10 Muharram 61 H/10 Oktober 680 M.

Nah, angka dalam Islam memang demikian penting sehingga Allah sendiri menyimbolkan diri-Nya dengan angka 1 (satu/ahad) dikelilingi oleh nomor cantik 99 (asmaul husna).

Ali meyakini dan membuktikan bahwa angka-angka (jumlah dan nomor surah, ayat, bahkan kata dan huruf) dalam penyusunan Alquran adalah bagian dari wahyu.

Ini mungkin saja karena sifat numerik memang universal, dikenal oleh semua bangsa; diungkapkan dengan kata berbeda tapi bermakna sama.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi karena penemuan-penemuan yang dipengaruhi angka (rumus-rumus). Hal yang amat dikejar manusia modern adalah juga angka-angka (uang dan nilai).

Karena itulah kiranya Phytagoras menyatakan bahwa hakikat alam semesta ini adalah angka. Juga tidak salah kalau ada pemikiran yang menyatakan bahwa bahasa di akhirat nanti adalah bahasa angka.

 

Namun demikian, ini tentu berbeda dengan angka 26 di atas yang tidak didasarkan atas data valid. Yang pasti, dalam Alquran surah ke-26 (asy-Syu‘ara) memang dikemukakan beberapa bentuk bencana.

Pertama, Firaun ditenggelamkan di Laut Merah ketika sedang berusaha mengejar Nabi Musa dan pengikutnya (ayat 66). Kedua,  bencana akhirat yang akan dialami oleh para penyembah berhala (ayat 88-102).

Ketiga, umat Nabi Nuh yang ingkar ditenggelamkan dalam banjir tsunami (ayat 120). Keempat, umat Nabi Hud dibinasakan karena mendustakan kenabian Hud (ayat 139). Kelima, umat Nabi Saleh ditimpa azab (ayat 158). Keenam, umat Nabi Luth dihujani batu karena melakukan praktik sodomi (ayat 173).

 

Ketujuh, umat Nabi Syu‘aib yang dikenal gemar curang ditimpa kegelapan dan kepanikan di siang bolong; langit diliputi awal tebal dan hitam (ayat 189). Kedelapan, pada ayat 202 Allah menyatakan bahwa azab akan datang secara mendadak sehingga manusia tidak menyadarinya.

Pernyataan Allah pada poin kedelapan ini tampaknya menjadi pesan universal Alquran. Pada al-A‘raf ayat 97-98 juga dinyatakan bahwa azab akan datang secara tidak terduga yaitu pada malam hari ketika manusia sedang pulas (seperti gempa Bengkulu tahun 2000-an) dan waktu dhuha ketika manusia sedang bermain (seperti tsunami Aceh 2004). Bencana disebut datang tiba-tiba, artinya tidak dapat diprediksi.

Tetapi di ar-Rum: 41 dikemukakan kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Artinya, ada hukum sebab-akibat yang rasional sehingga bencana dapat diprediksi. Al-A`raf ayat 97-98 juga menunjukkan bahwa bencana dapat diprediksi. “Tidur” dapat berarti “Tidak sadar”, dan “Bermain” dapat bermakna “Lalai”.

Tidak sadar bahwa lingkungan kita rawan bencana alam dan lalai dengan kehidupan duniawi. Artinya, bencana alam muncul sebab kelalaian manusia sendiri. Itu juga hukum sebab-akibat.

Memang, bencana alam seperti tsunami juga dapat dipahami sebagai sebuah fenomena alam yang pasti akan terjadi pada suatu waktu tertentu. Demikian juga letusan gunung berapi pasti akan terjadi ketika kawahnya sudah tertutup rapat dan tekanan di dalam gunung sudah demikian tinggi.

Namun demikian, sampai saat ini belum ada seorang ahli pun yang dapat memastikan kapan terjadinya gempa bumi dan tsunami.

Karena itu, yang harus dilakukan mestinya adalah mempersiapkan diri menghadapi bencana itu. Tidak lalai dengan peringatan-peringatan Allah dan peringatan dari alam sendiri.

Fenomena tanah longsor, banjir, dan kekeringan adalah peringatan dari alam bahwa ia akan datang dalam bentuk yang lebih besar jika penyebabnya tidak diindahkan.

Begitu juga berbagai bentuk fenomena sosial seperti maraknya kemaksiatan, korupsi dengan beragam kiat dan bentuk, ketidakpedulian terhadap sesama, dan peminggiran agama, adalah undangan resmi untuk tamu yang sebenarnya sangat ditakuti yaitu bencana alam atau bencana sosial.

Untuk itulah, pada surat 26 ayat 190 Allah menyatakan: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”

Jadi tautan antara berbagai bencana tanggal 26 dengan surat 26 memang tidak dapat dipercaya, tetapi substansi kejadian-kejadian yang dibawa surat 26 memang tak terbantahkan yaitu kaitan antara keinkaran dan kelalaian dengan bencana.

Di banyak tempat dalam Alquran, Allah menunjukkan banyak kisah bahwa kemunkaran akan berbuah pahit.

Di sinilah pesan penting surat 26: Jika buah itu sudah waktunya jatuh ke tanah, ia tidak peduli apakah tanah itu berisi orang saleh atau orang fasik, semuanya dapat saja tertimpa sakitnya.

Angka 26 yang berarti bencana 26 Desember dan substansi Alquran surat 26 harus diingat setiap saat, bukan sekadar peringatan formal setahun sekali. Mudah-mudahan kita semua tidak lagi menghadapi peristiwa seperti 26 Desember 2004 silam. Amin. (FIN)

Sumber     : Diolah/Net
Editor        : M. Syaiful Amri
Fotografer: Faisal R.Syam & Afp/net

About Syaiful Amri

Check Also

Misteri Cewek Cantik

INI menarik untuk dicermati. Juga untuk dipelajari. Karena kecanggihan teknologi dan karena kebebasan informasi, semuanya bebas. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
error: ga boleh copy paste boss