Kiprah Para Jurnalis Tuna Rungu Mengawal Isu Kekinian

FIN.CO.ID – Tuli bukan berarti tak bisa berkomunkasi. Bukan juga tak mampu berkarya. Seperti yang dilakukan para tim redaksi di KamiBijak.com. Semua jurnalis di media ini merupakan penyandang tuna rungu. Alat komunikasi mereka hanya memakai bahasa isyarat dan satu penerjemah.

Kami Bijak nama pendeknya. Kepanjangannya, Kami Berbicara Isyarat Jakarta. Media yang baru lahir September lalu ini cukup menarik perhatian. Seluruh pengelolanya, baik jurnalisnya sekalipun merupakan penyandang disabilitas tuna rungu.

Media yang fokus menggarap video dalam peliputannya, ini dicetuskan oleh Paulus Ganesha Aryo Prakoso yang akrab disapa Paulus. Ia bukan sosok yang ahli di industri media. Pria yang juga tuli ini merupakan lulusan dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Jurusan yang ia ambil juga bukan komunikasi, tapi Teknologi Informatika.

Di kantor Kami Bijak, Paulus mulai bercerita awal berdirinya media daring tersebut. Dalam wawancara itu, seorang penerjemah datang menemani kami menerjemahkan bahasa isyarat dari Paulus. Ya, ide ini berawal saat ia melihat siaran di televisi saat ia kecil. Dahulu, saat siaran berita, ada orang yang di sudut kanan bawah yang menggunakan bahasa isyarat. Hal itu dinilai sangat membantu bagi penyandang disabilitas tuli untuk mengetahui informasi terkini.

Kepada wartawan, Paulus menjelaskan, Kami Bijak bertujuan untuk memberi kemudahan akses informasi daring ramah disabilitas, terutama bagi mereka yang mengalami masalah pada pendengaran atau tuli. Informasi ini dikemas dalam bentuk video, bahasa isyarat dan teks.

Tapi saat ini, sudah tidak ada bahasa isyarat. Makanya kami buat secara utuh, kata Paulus dengan isayarat dan kata-kata yang coba saya mengerti.

Ia pun mulai membuka lowongan di internet untuk mencari editor, videographer sampai reporter yang semuanya tuli. Ada beberapa lamaran yang masuk, pelamarnya pun bukan sekitar Jabodetabek, melainkan berbagai wilayah di Indonesia, Solo, Serang dan Jogjakarta.

Saat ini, ada enam orang yang tergabung dalam media khusus penyandang tuli tersebut. Setiap harinya, mereka membuat dua video yang nantinya di unggah ke website dan kanal youtube. Ada juga video berdurasi pendek yang diunggahnya ke media sosial Instagram, terangnya.

Pengerjaan media daring ini tak main-main, pria kelahiran Jakarta 36 tahun lalu ini mengundang sejumlah tokoh terkenal menjadi narasumber. Sebut saja Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Menkominfo, Najwa Shihab, sampai Presiden Jokowi pun pernah diliput untuk diwawancarainya.

Di kantornya di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang suasanya cukup nyaman. Tapi ada yang unik. Dalam satu ruangan semuanya sangat hening. Begitu juga saat proses editing, tidak ada lagu atau suara yang ditampilkan dalam video.

Saat komunikasi dengan rekan kerja, semuanya menggunakan isyarat. Merupakan pemandangan yang sangat jarang ditemui dalam dunia kerja manapun.Harapanya dalam media ini cukup besar. Adanya perhatian lebih bagi penyandang disabilitas khususnya tuli agar tak dijadikan anak tiri dalam dunia pekerjaan,

Banyak perusahaan yang ragu merekrut penyandang disabilitas. Saya ingin menunjukkan kepada khalayak, jika disabilitas tuli masih bisa eksis dan bekerja layaknya orang normal, tandasnya.

(KHANIF LUTFI/FIN)