Hukum Kriminal

Ikut KKN di Maluku, Mahasiswi UGM Diperkosa Rekan, Pelaku Belum Ditangkap

FIN.CO.ID, – Seorang mahasiswi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial AN, diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh sesama rekan KKN berinisial HS, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2014.

Peristiwa ini terjadi saat mahasiswi angkatan 2014 ini, mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram-Maluku, pertengahan tahun 2017 lalu. Peristiwa itu diungkap oleh Balairung Press (Badan Pers Mahasiswa UGM) melalui laporan yang diunggah pada 5 November 2018.

Namun demikian, setahun berlalu, pelaku belum juga ditangkap. Alasannya, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta masih menunggu laporan drai pihak korban.

“Pelecehan seksual itu memang bukan delik aduan, tetapi yang bersangkutan (korban) harus melapor karena kalau tidak melapor bisa saja dia tidak merasa dirugikan,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Yulianto di Yogyakarta, Kamis (8/11), seperti dilansir Antara.

Yulianto mengatakan, hingga saat ini Polda DIY belum menerima laporan terkait kasus yang terjadi pada 2017. “Saya cek belum ada (laporan),” kata dia.

Menurut dia, meski bukan delik aduan, untuk menindak kasus pelecehan seksual yang terjadi pada tahun lalu itu tetap dibutuhkan berbagai data mengenai peristiwa dan siapa saja saksi-saksi saat kejadian.  Data-data itu pula yang menurut dia, bisa menjadi dasar kepolisian untuk bergerak dan melakukan pemanggilan.

“Untuk menindak kasus itu harus memuat form-form segala macam mengenai kejadian dan siapa-siapa saksinya. Nah orang-orang yang mengetahui peristiwa itu mesti melapor apakah temannya, atau keluarganya,” kata Yulianto.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Prof Nizam memastikan, seorang mahasiswa berinisial HS yang diduga sebagai pelaku perkosaan terhadap mahasiswi di kampus itu, telah dijatuhi sanksi dan belum bisa lulus kuliah tahun ini.

“Pelaku yang seharusnya bisa wisuda Agustus lalu, belum bisa lulus karena masih harus menjalani sanksi dari pimpinan universitas berdasar rekomendasi tim independen,” kata Nizam saat dihubungi di Yogyakarta.

Menurut Nizam, pascaperistiwa pelecehan seksual yang terjadi pada 2017, UGM dengan cepat merespons dengan menarik kedua mahasiswa dari lokasi kuliah kerja nyata (KKN) yang berlangsung di Maluku.

“Kami juga langsung implementasikan sanksi terhadap pelaku, yakni KKN-nya tidak lulus dan harus mengulang,” kata dia.

Selain itu, pihak UGM juga telah membentuk tim independen pencari fakta yang terdiri atas perwakilan Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM dan psikolog.

“Agar tidak bias gender, saya meminta dosen perempuan yang cukup senior dan biasa membimbing mahasiswa untuk menjadi wakil dari Fakultas Teknik, demikian pula dari Fisipol dan psikolognya,” kata dia.

Meski demikian, Nizam mengatakan karena UGM merupakan lembaga pendidikan, maka prinsip penyelesaian yang dilakukan adalah mendidik dan tetap memenuhi rasa keadilan.

“Melindungi para pihak yang keduanya adalah anak-anak kami juga. Sehingga memang tidak dipublikasi,” kata dia.

Berdasarkan rekomendasi dari tim independen pula, pelaku harus mengikuti pembinaan konseling oleh psikolog dan penyintas juga didampingi kounseling. (*/fin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!