Internasional

Ratusan Aktivis LGBT di Tanzania Jadi Buruan Aparat

FIN.CO.ID – Ratusan aktivis LGBT di Tanzania, tepatnya di kota Dar es Salaam, dilaporkan bersembunyi dari kejaran otoritas setempat, setelah salah seorang pejabat senior kota tersebut mengumumkan pembentukan satuan tugas (satgas) yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghukum kaum pencinta sesama jenis di kota tersebut.

Paul Makonda, kepala administrasi kota, mengatakan jika dirinya  telah mengumpulkan tim yang terdiri dari pejabat dan pihak kepolisian dalam intensifikasi diskriminasi anti-LGBT, yang nantinya akan mengerjar kaum gay, dan menghadapkan mereka pada hukuman penjara,

Dalam sebuah wawancara yang diposting di YouTube, Makonda menyerukan kepada warga Tanzania agar dapat bersinergi, melaporkan siapa saja kaum gay di kota tersebut. Dan dalam wawancara itu, ia mengungkapkan bahwa setidaknya telah terdapat lebih dari 5.700 laporan dari masyarakat dan berhasil mengumpulkan lebih dari seratus nama.

Seorang aktivis LGBT yang namanya dirahasiakan mengaku jika wacana pemburuan kaum gay, khususnya mereka para aktivis, sebagai hal yang mengerikan dan telah memaksa mereka untuk bersembunyi.

“Mereka merangsek ke rumah-rumah (kaum gay).  Hal ini mengerikan, hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk. (Gara-gara itu) banyak yang meninggalkan kota, melarikan diri mereka. (Satgas ini) menargetkan para aktivis, mengatakan jika kami mempromosikan homoseksualitas. Kami harus bersembunyi, ” kata sang aktivis, seperti dikutip The Guardian, Selasa (6/11).

Sementara menurut aktivis lain asal kota tersebut, khawatir apabila situasi ini, akan memberikan permasalahan tersendiri, tidak hanya kepada mereka (kaum gay) dan mereka keluarga dari kaum gay itu sendiri.

“Anda bisa bayangkan apa dampaknya terhadap mereka (kaum gay) dan para keluarganya,” kata dia mempertanyakan.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Tanzania mengatakan bahwa kampanye Makonda tersebut hanya mewakili pandangan lokal, dan bukan bagian dari pemikiran pemerintah secara menyeluruh.

Kendati demikian, para pejabat di negara Afrika bagian timur itu, telah berulang kali mendukung serangkaian langkah-langkah homophobic sejak John Magufuli menjadi presiden pada tahun 2015 lalu.

Melihat kasus ini, Joan Nyanyuki, direktur regional Amnesty International untuk Afrika Timur, Horn dan Great Lakes, berpendapat jika satgas ini nantinya, akan memicu kebencian di antara anggota masyarakat.

Ia juga menambahkan bahwa kaum LGBT di Tanzania, sudah terlebih dahulu menghadapi diskriminasi dan ancaman di tengah masyarakat, jauh-jauh hari sebelum wacana tersebut berggulir.

Sementara Michelle Bachelet, komisioner tinggi PBB untuk hak asasi manusia, mengatakan jika dirinya takut keberadaan satgas ini nantinya, dapat digunakan oleh orang-orang tertentu sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, intimidasi,, pelecehan dan diskriminasi terhadap mereka kaum LGBT.

(ruf/fin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!