Kesehatan

Selamatkan Anak dari Diabetes Melitus

FIN.CO.ID, JAKARTA – Diabetes melitus (DM) atau lazim disebut penyakit kencing manis masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Bagaimana tidak, gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula dalam darah melampaui batas normal ini tidak lagi hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga terjadi pada anak-anak dan remaja.

Dr. dr. Aman Pulungan, Sp.A (K), Ahli endokrin anak mengungkapkan, bahwa saat ini di Indonesia pasien diabetes anak (DM tipe-1 dan DM tipe-2) telah mencapai 97 juta orang. Dikatakan pula, DM tipe-1 jumlahnya lebih banyak dibanding DM tipe-2, namun ada kecenderungan DM tipe-2 meningkat jumlahnya.

“Meskipun DM tipe-1 paling banyak jumlahnya namun DM tipe-2 ada kecenderungan meningkat dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwayat DM tipe-2 di keluarga,” jelas Dr. Aman pada Media Briefing “Kenali Gejala Dini Kanker Pada Anak” di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (31/10).

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa angka kejadian DM pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700 persen selama kurun waktu 10 tahun.

Dari hasil penelitian Dr. Aman yang ditulis dalam karya ilmiah berjudul “Paediatrica Indonesia” tahun 2013 menjelaskan ada kaitan antara obesitas dengan resistensi insulin.

“Dari 92 remaja dengan obesitas di Jakarta Pusat, 35 atau 38 persen menunjukkan tanda resistensi insulin,” ungkap Ketua Pengurus Pusat IDAI.

Dikatakan Dr. Aman penyakit DM pada anak memerlukan biaya cukup besar karena pasien akan memakai insulin seumur hidupnya.

Kepala Divisi Endokronologi Departemen Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo/FKUI ini juga mengatakan, selain memperhatikan ciri-ciri fisik anak, orangtua juga harus memeriksakan gula darah anak saat di Unit Gawat Darurat (UGD).

“Kadar gula darah normal anak antara 100 mg/dl hingga 200 mg/dl jika melebihi artinya anak sudah dikategorikan diabetes,” kata Dr. Aman.

DM tipe-1 disebabkan interaksi dari banyak faktor antara lain, kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel β pankreas yang perannya masing-masing terhadap proses DM tipe-1 belum diketahui.

Berbeda dengan DM tipe-1, DM tipe-2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat seperti berat badan berlebih (overweight), obesitas (kegemukan), kurang aktivitas fisik (sedentary), hipertensi (tekanan darah tinggi), dislipidemia (kadar lemak dalam aliran darah terlalu tinggi atau terlalu rendah), dan diet tidak sehat/tidak seimbang, serta merokok.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, angka kejadian faktor risiko DM tipe-2 yaitu sebesar 18,8 persen anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8 persen menderita obesitas.

Dr. Aman menyarankan, agar para orangtua mewaspadai gejala-gejala DM pada anak. Anak dengan DM akan merasakan lapar terus-menerus meski baru selesai makan. “Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah menjadi energi,” katanya.

Anak juga akan merasa haus terus-menerus karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin sehingga tubuh mengalami dehidrasi. Rasa haus yang menyebabkan anak selalu minum tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik sehingga lebih sering buang air kecil dari pada frekuensi normal, terutama di malam hari.

Bukan hanya itu saja, anak akan mengalami penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu sebelum terdiagnosis meskipun sering minta makan. “Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut,” jelas Dr. Aman.

Kemudian gejala kelelahan dan mudah marah. Tubuh anak yang tidak mampu menyerap gula dari makanan membuatnya kekurangan energi sehingga mudah merasa lelah. Anak juga akan mengalami gangguan perilaku dan perubahan emosi menjadi cepat marah dan murung.

Dan orangtua juga harus mewaspadai tanda darurat lainnya antara lain sesak napas, dehidrasi, syok dan napas berbau keton.

DM tipe-1 tidak dapat dicegah dan siapapun dapat mengalaminya. Di Indonesia, DM tipe-1 pertama kali didiagnosis paling banyak pada kelompok usia 10-14 tahun dengan 403 kasus, kemudian kelompok usia 5-9 tahun dengan 275 kasus, kelompok usia kurang dari 5 tahun dengan 146 kasus, dan paling sedikit adalah usia di atas 15 tahun dengan 25 kasus.

“Pada kasus DM tipe-1 komplikasi terparahnya adalah pasien meninggal. Sayangnya, anak dengan DM tipe-1 ini merupakan anak ‘terpilih’,” kata Dr. Aman.

Dikatakan pula DM tipe-1 tidak harus ada faktor keturunan, karena anak-anak yang terkena diabetes tersebut disebut ‘anak terpilih’. Pada kasus ini gen tertentu ikut mempengaruhi. Penyebab dari diabetes ini adalah auto-imun.

“Faktor risiko yang memicu auto-imun kemudian meningkat menjadi DM. Adanya infeksi virus seperti arbovirus, polio, coxsackie. Selain itu, ada juga defisiensi vitamin D. DM tipe-1 ini bila tidak diketahui sejak awal dan tak tertangani dengan baik berujung pada kematian,” kata Dr. Aman.

Berbeda halnya dengan DM tipe-1, DM tipe-2 pada anak biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih tua. Pada DM tipe-2, sering disertai dengan adanya kulit menjadi lebih gelap. Resistensi insulin atau gangguan pada kerja insulin dapat menyebabkan beberapa area kulit anak berubah menjadi lebih gelap, seperti ketiak dan leher.

“Data DM tipe-2 agak sulit didapat sehingga karena belum parah dibiarkan saja. Nanti baru ketahuan diabetes saat usia di atas 18 tahun,” tutur Dr. Aman.

Karena peningkatan DM tipe-2 diketahui dipengaruhi oleh obesitas, pencegahan dilakukan dengan dengan menerapkan gaya hidup. Dr. Aman menyarankan agar orangtua menerapkan prinsip 5210 untuk mencegah DM pada anak.

“5 artinya asupan buah dan sayuran lima kali, 2 adalah maksimal dua jam anak duduk di luar kegiatan sekolah dan screen time. Kemudian 1 ialah satu jam waktu ideal melakukan olahraga. Dan, 0 artinya tidak ada gula maupun gula tambahan,” jelasnya.

Dr. Aman juga menegaskan agar orangtua tidak memberikan makanan kemasan yang belum jelas kadar gulanya. “Orangtua juga harus membatasi anak untuk memberi makanan kemasan karena belum jelas kadar gulanya. Dengan begitu diabetes pada anak bisa dicegah,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pencehagan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes mengungkapkan, data Diabetes: A Global Emergency, Indonesia menempati peringkat 7 dengan beban estimasi DM sebesar 10 juta setelah Cina, India, Amerika Serikat, Brasil, Rusia, dan Meksiko.

Mengingat peningkatan DM tipe-2 diketahui dipengaruhi oleh obesitas, dr. Cut mengingatkan hal pertama yang harus diperhatikan orangtua dengan mempertahankan berat badan ideal anak.

Jika anak memiliki berat badan berlebih, maka upayakan untuk menguranginya sekitar 5 sampai 10 persen untuk mengurangi risiko. Diet kalori dan rendah lemak sangat dianjurkan sebagai cara terbaik menurunkan berat badan dan mencegah DM tipe-2.

“Bagaimana dengan asupan gula, garam, dan lemak. Bila ada obesitas, segera cek gula darah,” ujar dr. Cut.

Selain itu, perbanyak makan buah dan sayur. Konsumsi berbagai macam buah dan sayur setiap hari, maka risiko DM tipe-2 dapat berkurang. Dokter Cut juga menyarankan untuk mengurangi minum minuman manis dan bersoda.

Kemudian luangkan waktu agar anak berolahraga setidaknya 30 menit dalam sehari untuk mencapai berat badan ideal dan menekan tingginya risiko DM tipe-2. Berolahraga juga bisa menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin. Serta batasi waktu penggunaan gawai atau gadget.

“Diabetes tidak dapat disembuhkan tapi dengan kontrol metabolik yang baik, anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya,” kata dr. Cut.

Kontrol metabolik yang dimaksud adalah, mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak malah menjadi kekurangan glukosa dalam darah. Pengelolaan dilakukan antara lain, dengan pemberian tata laksana yang sesuai baik insulin maupun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, serta pemantauan gula darah secara mandiri (home monitoring).

“Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal ini dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau dokter anak, ahli gizi, ahli psikiatri, psikologi anak, pekerja sosial, dan edukator,” pungkasnya.

(dim/fin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!