Operasi Darurat Lombok, Kemensos Kucurkan Rp 21,6 Miliar

    FIN.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan dana untuk bantuan korban gempa bumi di Lombok masih tersedia. Sejauh ini, anggaran yang disalurkan Kemensos sudah mencapai Rp21,6 miliar untuk operasi darurat yang diberikan secara bertahap. Dana tersebut termasuk santunan bagi korban yang meninggal dunia.

    Hal tersebut diungkapkan Juru bicara Command Center Kemensos, Adhi Karyono kepada Fajar Indonesia Network (FIN) melalui telpon selulernya, Senin (8/10). Bantuan dari Kemensos tersebut difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar pada tahap pasca gempa.

    “Bantuan selama darurat 3 tahap. Masih ada 1 tahap lagi untuk mengisi logistik berikutnya dan penggantian tenda-tenda menjelang musim hujan. Sedangkan santunan meninggal dunia sudah diselesaikan seluruhnya sebesar Rp 8,6 miliar,” kata Adhi Karyono.

    Adhi membantah beredarnya pemberitaan bahwa Kementerian Sosial sudah kehabisan uang untuk membantu para korban bencana di Lombok. Ia mengklaim, Kemensos masih memiliki anggaran yang akan disalurkan secara bertahap sesuai dengan usulan dan tahapan pembangunan kepada masyarakat saat berada di hunian sementara maupun hunian tetap.

    “Kemensos masih memiliki anggaran untuk bertahap sesuai usulan dan tahapan pembangunan hunian sementara dan hunian tetap. Namun kesepakatan awal untuk Lombok dikoordinir oleh BNPB untuk menggunakan dana siap pakai,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Adhi juga membantah jika bantuan untuk rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan ditanggung oleh Kemensos. Untuk persoalan ini, dikatakan, sesuai dengan penugasan rehabilitas rekonstruksi pembangunan rumah merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR).

    Sementara bantuan dari Kemensos sendiri hanya berupa pemenuhan kebutuhan dasar pada tahap pasca bencana. Diantaranya, berupa santunan bagi korban meninggal, jaminan hidup selama berada di hunian sementara serta isi hunian tetap jika rumah warga sudah dibangun.

    “Santunan sudah kami selesaikan. Jaminan hidup masih menunggu masuk hunian sementara dan hunian tetap dan sambil menunggu usulan data yang sudah di verifikasi lapangan dari Bupati. Selanjutnya akan divalidasi oleh Kemensos baru diberikan secara bertahap,” pungkasnya.

    Sebelumnya, Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), Syarif Burhanuddin mengatakan, sampai saat ini secara bertahap pihaknya tengah menambah jumlah tenaga terampil dalam pembuatan panel beton dan pemasangan Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat) melalui pelatihan dan sertifikasi. Kebutuhan yang besar dan dalam waktu yang cepat untuk membangun kembali rumah yang rusak akibat gempa bumi di NTB awal Agustus 2018 lalu tentunya membutuhkan banyak tenaga terampil.

    Kegiatan pelatihan dan sertifikasi tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Joko Widodo dalam Inpres No.5 tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram dan wilayah lain yang juga terdampak di NTB, dimana rehab rekonstrusi rumah ditargetkan selesai dalam 6 bulan sejak 1 September 2018. Sebagai negara rawan bencana termasuk gempa, pembangunan rumah tahan gempa tidak hanya untuk masa sekarang, namun juga masa depan.

    “Kalau hanya untuk masa sekarang, rumah yang dibangun cenderung seperti rumah yang dulu. Tidak ada upaya pencegahan apabila terjadi gempa kembali. Pelatihan ini merupakan keseriusan Pemerintah untuk membangun kembali NTB,” kata Syarif seperti dikutip dari www.pu.go.id.

    Syarif mengatakan dari data sementara, jumlah penduduk NTB yang berminat membangun Risha sebanyak 1.800 orang dari total rumah yang rusak sebanyak 83.800 unit. Pelatihan yang berlangsung 3 hari tersebut diikuti 560 peserta yang terbagi menjadi dua kategori yakni kategori Produksi untuk pekerja di bidang pembesian, pembetonan dan kategori Pemasangan (Instalasi) untuk para instaler Risha. Peserta berasal dari Kota Mataram, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Barat.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here