Pasokan Jagung Pengaruhi Kenaikan Harga Telur

FIN.CO.ID, JAKARTA – Tingginya harga telur dalam beberapa minggu belakangan ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor penyebab. Salah satu diantaranya yakni, dikarenakan minimnya ketersedian jagung sebagai pakan ayam.

Pakan ayam berperan penting untuk menunjang pertumbuhan ayam. Sekarang harga pakan ayam mengalami peningkatan secara rata-rata Rp 250 per kilogram (kg). Hal ini disebabkan karena pasokan jagung yang menipis sehingga mau tidak mau akan meningkatkan biaya produksi.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, lebih dari 45 persen pakan ayam berasal dari jagung sehingga kelangkaan jagung pasti akan memengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi jumlah produksi jagung harus berebut dengan permintaan konsumen yang ditujukan untuk non pakan ternak. “Semakin mahal harga telur di tingkat petani maka semakin sulit pedagang eceran untuk memasok persediaan dengan modal jualan yang tetap,” kata Novani di Jakarta, Selasa (24/7).

“Di samping itu, pemerintah juga perlu mewaspadai rantai distribusi perdagangan telur. Karena tidak menutup kemungkinan terdapat oknum disepanjang rantai distribusi yang sengaja membuat harga telur menjadi tinggi,” tambahnya.

Dia menjelaskan, saat ini jumlah produksi jagung nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsi jagung nasional. Namun parahnya, di waktu yang bersamaan, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan), jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional adalah 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.

Di saat yang bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berjumlah 21,6 juta ton, 22,5 juta ton dan 23,3 juta ton. Ada sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.

Jumlah jagung yang diimpor Indonesia terus mengalami penurunan. Indonesia mengimpor 3,19 juta ton jagung pada 2013 dan 3,18 juta ton pada 2014. Sementara itu pada 2015, 2016 dan 2017 jumlahnya impornya adalah3,5 juta ton, 1,3 juta ton dan 500.000 ton. “Penurunan jumlah impor yang dimaksudkan untuk melindungi petani jagung nasional justru tidak efektif untuk menjaga kestabilan harga,” paparnya.

Menurut dia, tingginya harga telur ini tidak hanya berdampak pada konsumen akhir, tetapi juga produsen yang berbahan baku telur seperti produsen roti dan produsen makanan olahan lainnya. “Ditambah lagi telur ayam ditengarai sebagai salah komoditas yang menyumbangkan nilai tinggi terhadap inflasi di bulan Juni,” terangnya.

Menanggapi mahalnya harga pakan ternak saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku tengah berupaya untuk mengatasi hal itu dengan cara melakukan substitusi atau mengganti bahan pakan ternak, khususnya bahan impor yang terkena dampak dari penguatan USD.

Direktur Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Ketut Diarmita mengatakan pihaknya berencana mengusulkan untuk mengganti bahan pakan seperti bungkil kedelai menjadi sorgum. Kita mengalihkan kepada pakan pengganti yang bisa. Yang tadi campurannya 3 jadi 4 dan yang ke-4 ini yang akan mengganti kita mengarah ke sorgum bisa dimix ke situ,” pungkasnya.(DS/FIN)