DPR: Cabut Izin Importir Nakal

FIN.CO.ID, Jakarta – DPR RI mendukung langkah Kementrian Pertanian memasukkan lima importir bawang bombai mini dalam daftar hitam (blacklist) dan melaporkan importir-importir tersebut ke Bareskrim Mabes Polri. Tak hanya itu, Komisi IV DPR yang membidangi masalah pangan, meminta mencabut izin impor mereka.

“Lanjutkan dengan tindakan tegas berupa sanksi tidak boleh melakukan kegiatan impor terhadap perusahaan-perusahaan nakal tersebut”, tegas Anggota Komisi IV Hermanto, di Jakarta, Minggu (24/6).

Secara detail, lima perusahaan yang akan dimasukkan ke dalam daftar hitam tersebut adalah PT FMP, PT TAU, PT JS, PT SMA dan PT KAS. Mereka memasukkan bawang bombai berukuran kecil yang selanjutnya dipasarkan sebagai bawang merah. Padahal dalam Kepmentan 105/2017, impor bawang bombai berdiameter kurang dari lima centimeter sudah ditutup karena secara morfologis bentuknya menyerupai bawang merah lokal sehingga berpotensi mengelabui konsumen dan merugikan petani lokal. Masuknya bombai mini yang kemudian dijual sebagai bawang merah membuat petani sulit menjual produk bawang merahnya.

Sementara itu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan, sejak tahun 2016 tidak lagi mengeluarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RlPH) bawang merah (shallot). Produksi di dalam negeri per tahun mencapai lebih dari 1,45 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi berkisar 1,2 juta ton, sehingga terjadi surplus. Pada 2017 Indonesia pun telah mengekspor lebih dari 7.750 ton ke berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Singapura, Timor Leste dan Taiwan.

“Untuk bawang merah, kita sudah swasembada. Bahkan bisa ekspor”, ujar Hermanto.

Swasembada, lanjutnya, bisa tercapai terutama karena para petani bersemangat dalam menanam bawang merah. Untuk mempertahankan swasembada tersebut, Pemerintah harus mengantisipasi berbagai hal yang bisa meruntuhkan semangat petani.

Hermanto menjelaskan, impor komoditas sejenis ketika komoditas tersebut tersedia cukup di dalam negeri merupakan tindakan yang sangat melukai hati dan bisa berujung pada runtuhnya semangat petani. “Tindakan tegas Kementan terhadap importir nakal tersebut merupakan upaya mencegah runtuhnya semangat petani. Karena itu patut diapresiasi,” tukas politikus PKS ini.

Ditambahkan ekonom Indef, Eko Listiyanto, terkadang importir hanya ingin mencari keuntungan pribadi. Mereka tidak melihat bahwa nilai tukar rupiah sedang melemah atau merugikan petani. Mereka biasanya hanya melihat permintaanya tinggi, terutama pada saat Lebaran Idul Fitri.

“Sehingga impornya tinggi. Saya yakin juga data-data perdagangan di bulan Juni ini cukup tinggi karena trend permintaan cukup tinggi di Lebaran ini,” kata Eko.

Para importir lanjut Eko, sebenarnya mencari celah pasar domestik yang sangat potensial tetapi tidak dikelola dengan baik. Kepentingan importir pun simple, yaitu bagaimana caranya barang mereka masuk dan mendapatkan margin. “Persoalannya adalah, di sisi lain kalau pemerintah jeli, kenaikan impor adalah sebetulnya potensi jualan dari produk domestik,” kata dia.

Menurut Eko, kalau impor makin tinggi, berarti permintaan itu ada. Tetapi, tidak ada upaya baik pemerintah maupun swasta dalam negeri untuk menyediakan. Karena untuk menyediakan barang tersebut, memang lebih mudah dari impor. “Itu macam-macam, industri tekstil, fashion yang macam-macam itu misalnya, juga mensuport industri tekstil China, bukan dari Indonesia, karena beli bahan bakunya dari sana. Problem ini terus menerus terjadi sehingga kalau pun mereka mampu menumbuhkan wirausahawan tetap ujung-ujungnya impor,” kata dia.

Hal ini, kata Eko, sebenarnya bisa diatasi kalau pemerintah mendorong perekonomian domestik yang lebih kuat. Misalnya, dengan mengeluarkan kebijakan non tarif barier atau mewajibkan sekian persen kebutuhan pokok saat terjadi lonjakan permintaan harus dipenuhi dari dalam negeri. “Kalau belum baru kita impor. Kalau dirumuskan seperti itu sebetulnya bisa. Kayak kita sering itu, kalau mau panen, baru dibuka kran impor sedikit, sedikit itu itu, dimaintenance,” tukasnya. (Mad/FIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here