WOW, Indonesia Kedatangan Aliran Dana Asing Rp13 Triliun

HomeEkonomiWOW, Indonesia Kedatangan Aliran Dana Asing Rp13 Triliun

FIN.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat, aliran dana asing sudah banyak yang masuk sejak pengumuman kenaikan BI 7-Days Reverse Repo Rate ke level 4,75 persen. Dana asing yang masuk itu tercatat sudah mencapai Rp 13 triliun.

“Aliran modal asing yang masuk baik dalam bentuk obligasi pemerintah maupun korporasi,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Jakarta, Jumat (7/6).

Perry optimistis nilai tukar mata uang rupiah akan kembali menguat. Sebab, BI tak akan tinggal diam dan terus melakukan langkah untuk memastikan nilai tukar Rupiah itu stabil.

Selain itu, Perry juga mengungkapkan bahwa geliat ekonomi Indonesia semakin membaik terlihat dari hasil survei penjualan eceran dari BI mengidentifikasikan pertumbuhan penjualan eceran yang lebih tinggi yaitu pada april tumbuh 4,1 persen secara tahunan (yoy).

“Kalau Maret hanya 2,5 persen sedangkan andil 4,1 persen itu menunjukkan aktivitas ekonomi. Jadi Maret 2,5 persen dan April 4,1 persen,” kata dia.

Terkait dengan kegelisahan perbankan yang akan mengerek suku bunga deposito dan kredit, Perry memastikan bank tak punya alasan untuk segera menaikkannya. Meskipun bank sentral dua kali menaikkan suku bunga acuan dengan masing-masing 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.

Saat ini, lanjut Perry, likuiditas sangat mencukupi bagi perbankan. Dengan demikian, perbankan tak perlu bersaing menaikan suku bunga deposito untuk mendapatkan likuiditas yang nantinya digunakan menyalurkan untuk kredit.

“Bukan cukup lagi, tapi lebih dari cukup. Maka dengan likuiditas itu, tidak ada alasan bagi perbankan, untuk naikkan suku bunga,” tegas Perry.

Dirinya menambahkan, likuiditas sejak pertengahan Mei lalu sempat mengetat karena tingginya penarikan dana untuk kebutuhan ramadan-lebaran. Namun sampai saat ini Perry mengklaim tak perlu ada kekhawatiran jika likuiditas mengetat.

BACA JUGA:

Sebelumnya, ekonom Universitas Brawijaya Chandra Fajri Ananda mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi bakal terganggu. Hal itu dikarenakan faktor eksternal yang tengah bergejolak dan kenaikan suku bunga acuan BI. kenaikan suku bunga acuan ini justru akan menghambat berkembangnya sektor riil. Walhasil, pertumbuhan ekonomi tidak akan tercapai seperti yang diidam-idamkan pemerintah, yakni 5,4 persen.

“Paling realistis 5,2 persen. Indikasinya, ada kenaikan tingkat suku bunga, suku bunga tabungan sudah naik, suku bunga kredit yang suruh nahan kenaikannya. Nah kalau suku bunga naik, sektor riil sulit berkembang, berarti pertumbuhan ekonomi nggak mungkin tercapai 5,4 persen,” tukasnya. (Mad/FIN)

Baca Juga

Berita Terbaru