-advertisement-
-advertisement-
HomeEkonomiIni Alasan Pemerintah Tunda Penurunan HET Beras

Ini Alasan Pemerintah Tunda Penurunan HET Beras

FIN.CO.ID, JAKARTA – Rencana Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang akan menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium, nampaknya bakal ditunda untuk sementara waktu. Tadinya, Kemendag berniat menurunkan harga HET beras yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp 9.450 per kilogram menjadi Rp 8.900 per kg.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menjelaskan, alasan penundaan kebijakan penurunan HET beras medium karena pihaknya masih fokus menjaga pasokan beras. Terlebih dia melihat saat ini rata-rata harga beras yang dijual di pasaran sudah berada di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp9.450

Dia juga mengaku dalam waktu dekat ini, masih akan berkomunikasi dengan pihak Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) terkait rencana penurunan HET beras.

“Belum, belum, saya belum keluarkan, tadi rencananya memang kita mau turunkan (HET). Lihat perkembangannya dulu. Saya lusa ketemu sama Perpadi,” kata Enggar di kantornya Rabu, (6/6)

Menurut Enggar, saat ini rata-rata harga beras yang dijual di pasaran sudah berada di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp 9.450. “Kalau kita pakai acuannya Rp 9.450 maka range itu berkisar sekitar Rp9.000 sampai Rp9.200-an kalau diambil rata-rata ya,” terangnya

Enggar mengungkapkan, keputusan penundaan penurunan HET beras medium sudah melalui pertimbangan bersama Kementerian Koordinator Perekonomian. Dengan demikian, dia berharap pedagang beras dapat menjual beras medium sesuai dengan HET.

“Kita berkeinginan menarik ke bawah harga. Tapi hasil dari rakor juga tadi menyatakan lebih baik kita mem-penetrate di pasar dulu, yaitu menggelontorkan beras. Seluruh pedagang beras di pasar tradisional wajib menjual beras medium dengan HET,” tuturnya

Asisten Deputi Moneter Kemenko Perekonomian, Edi P Pambudi menilai, keputusan untuk menurunkan HET beras memang perlu ditinjau ulang. Tujuannya adalah untuk menjangkau harga agar tidak berlebihan.

Dia menjelaskan, pengaturan harga harus melibatkan dua pihak yaitu produsen dan konsumen, sehingga harga yang ditentukan jangan sampai hanya merugikan atau menguntungkan satu pihak saja.

“Kalau produsen enggak dapat untung mereka juga enggak bisa lakukan ekspansi bisnis,” ujarnya

Menurut Edi, faktor yang mempengaruhi melonjaknya harga beras bukan hanya terkait masalah produksi, namun juga banyak faktor lainnya seperti distribusi dan masalah transportasi. Pada intinya, dalam upaya mengatur harga di tingkat konsumen, jangan sampai produsen kehilangan keuntungan.

“Jangan sampai harga itu kemudian meledak bukan karena produksinya tapi sebenarnya karena faktor lain. Itu yang mulai kita kikis, struktur biaya pembentuk sehingga mempengaruhi inflasi,” pungkasnya (DS/FIN)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-advertisement-
-advertisement-